Kahijinews – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa tingkat kerusakan akibat gempa bumi bermagnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah diperparah oleh kondisi geologi wilayah yang kompleks. Keberadaan sejumlah sesar aktif serta karakteristik tanah di beberapa lokasi membuat guncangan gempa memberikan dampak yang lebih besar.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa selain dipengaruhi kekuatan gempa, besarnya dampak juga ditentukan oleh kondisi batuan dan lapisan tanah di wilayah terdampak. Daerah yang didominasi endapan sedimen lunak cenderung mengalami penguatan guncangan sehingga berisiko mengalami kerusakan lebih parah dibandingkan kawasan dengan batuan yang lebih keras.
Badan Geologi juga mengidentifikasi adanya potensi bahaya ikutan, seperti longsor dan likuefaksi, di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan yang memiliki riwayat kerentanan terhadap fenomena tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah terus melakukan pemetaan kawasan rawan bencana untuk mendukung penanganan darurat sekaligus menjadi acuan dalam penyusunan tata ruang dan pembangunan infrastruktur yang lebih aman terhadap ancaman gempa bumi.
Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi. Warga juga diminta mematuhi arahan petugas apabila terjadi gempa susulan maupun potensi bencana lanjutan di wilayah terdampak.

