Kahiji Story

Surat Kaleng, Surat Cinta

“PLETUKKK!” sebuah spidol mengenai jidatku.

“Aww” kontan mulutku mengeluarkan suara disambut gerrrr seisi kelas. Di depan kelas, Pak Tigor yang tampangnya imut aduhai memasang wajah sangar tapi lucu. Sorot matanya tajam menghujam ke arahku. Aku mengkerut takut.

“Sedang arisan apa, kalian berdua, heh?” teriaknya dengan kedua mata yang nyaris keluar dari kantongnya. Kelas menjadi hening. Pak Tigor berjalan menghampiri bangkuku, aku mengkerut takut. Sungguh baru kali ini aku lihat tampangnya berubah seram. Guru muda yang fans nya seantero cewek-cewek di sekolahku itu bikin aku mengkerut kaya jeruk purut.

“Hai, aku tanya kalian berdua. Sedang ngobrol apa tadi?” Pak Tigor bertanya keras sambil tangannya merebut selembar kertas dari tanganku yang gemetar.

“A…anu, Pak.” Aku tergagap.

“Anu apa?” katanya lagi sambil melotot.  Tapi, kali ini matanya melotot bukan ke arahku tapi ke tulisan yang ada di selembar kertas yang direbutnya dariku.

“Ke depan, kau!” perintahnya padaku. Keringatku mulai menetes di kening.

“Sendiri, Pak?” tanyaku mencoba memberanikan diri, “tadi saya kan ngobrolnya berdua May”.

Pak Tigor berkerut sebentar lalu.

“Ya, sudah kalian berdua ke depan.” Sontak May teman sebangkuku bikin tampang pura-pura marah padaku. Kami bedua senyum penuh arti. Kita harus sama-sama menderita, ok.

Kami berdua berjalan di belakang Pak Tigor. Aku sudah siap berdiri di muka kelas sambil mengangkat kaki sebelah. Aku pikir gak akan begitu malu karena berdua dengan May. Tapi lakadalaaah…….

“Coba, kalian baca surat ini bergiliran. Biar teman-teman sekelas menanggapinya.”  Pak Tigor menyuruh kami berdua membaca tulisan di kertas itu? Halloooo….itu surat kaleng yang berisi cinta, Pak. Kok, Pak Tigor nyuruh baca…..Bapak pernah muda gak, sih??? Rutukku dalam hati. Lupa kalau Pak Tigor itu tampangnya semuda para boys band korea. Tapi, akhirnya aku mencoba membaca daripada harus ditambah hukumannya nanti sama Pak Tigor..

“Dear Putri dihatiku….” Aku baca terbata. Gerrrr…..seisi kelas kembali riuh. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang berseru, ada yang bersuit. Ih, nyebelin emang teman-teman kelasku ini. Orang lagi menderita begini malah disoraki.

“Baca yang benar. Ekspresimu mana?” kata pak Tigor.

“Kau mau aku hukum di lapang sambil hormat bendera sampai bel pulang?” lanjutnya. Teman-teman jadi ramai menyemangatiku

“Ayooo…….kamu bisa, Putri….” Kata mereka berbarengan menyebut namaku. Aku cemberut. Namun kupaksakan juga membaca lagi.

Putriku sayang. Ini bukan sembarang surat kaleng. Ini adalah surat sebagai ungkapan cinta teramat sangat yang terlalu malu untuk diungkapkan secara berterus terang, sebab Sang pecintamu ini ingin benar-benar pasti bidadarinya takkan lari menjauh.” grrr….ramai pasar pindah ke kelasku. Aku ingin nangis, malu. Wajahku sudah kayak udang rebus. Aku menoleh ke Pak Tigor yang duduk di mejanya, tepat di sampingku.

“Sudah…..sudah….ganti. Hai May, sekarang kau yang baca. Harus lebih baik ekspresinya dari si Putri” katanya menyuruh May sekarang yang melanjutkan membaca.

Gilanya sohibku ini. Saking takutnya ia sama Pak Tigor, maka ia langsung maju selangkah di depanku. Dan dengan tampang seperti penyair pujangga gak jelas angkatannya, Si May mulai lantang membaca.

Kau tahu, wahai bidadari cintaku. Selama dua tahun ini, hatiku selalu kembang kempis saat menatapmu. Apalagi saat engkau berbicara dihadapanku. Aku merasakan waktu sesaat berhenti dan bumi berhenti berputar.”

“Ehhem……suit….suit….” anak-anak semakin gemuruh.

“Gempa dong…..buminya” aku tertunduk malu. Tak berani menatap teman-teman di kelas. May yang pada dasarnya gila kocaknya. Malah semakin menjadi membacanya sampai di lebay-lebaykan tak karuan.

Andai saja, aku Jaka Tarub. Tentu sudah kucuri hatimu melalui selendangmu. Namun, apalah aku ini. Hanya seorang pemalu yang teramat malu mengungkap cinta. Setiap saat yang ada di pikirku hanyalah kau, bidadari cintaku. Sudah kuubah semua rumus matematika menjadi lebih sederhana namun terasa rumit rumus untuk menyatakan cinta kepadamu. Berilah tanda agar aku tahu cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Simpanlah balasanmu dibalik kertas ini. Lalu, biarkan ia ditempat semula.”  Kelas menjadi runtuh karena gemuruh. Apalagi Si Alif yang konyol itu sambil berdiri mengangkat kedua tangannya kemudian melambai-lambaikan seperti sedang nonnton konser aja.

“ Tenang anak-anak…… sekarang coba kita dengarkan, apa jawaban Sang Bidadari Cinta kelas kita ini.”  Kata Pak Tigor sambil menenangkan anak-anak.  Walakadalaaaah……..Pak Tigor kok, jadi ikutan lebay kayak si May, kata hatiku sambil cemberut menatap Pak Tigor dengan tatapan protes.

“ Ayooo……ayo…..ayo…..!!!!” seisi kelas berkoor sama.

Gila benar Pak Tigor. Masa aku disuruh menjawab langsung isi surat yang entah dari siapa itu.

“Hei….ayo apa jawabnmu, Putri. Si penulis surat cinta itu menunggunya, kau tahu itu?” Pak Tigor gak sabaran.

“Mana bisa…….Pak. Suratnya perlu dianalisis dan dikaji secara mendalam baru bisa dijawab dengan tepat dan dengan bahasa yang baik dan benar.” Sohibku, May malah yang menjawab. Aku sudah sebab. Wajahku sudah kayak udang rebus. Entah karena malu atau marah.

Pak Tigor manggut-manggut mengerti sambil mengelus janggutnya yang hanya satu dua lembar itu. Ih, bikin illfeel banget. Gerututku dalam hati.

“Ya, sudah…kalian duduk lain kali kalau mau mendiskusikan surat cinta jangan saat pelajaran Bapak. Tidak etis itu….” Katanya dengan logat Batak yang kental. Huh, lega rasanya. Aku dan May berjalan kembali ke bangsu. Pelajaran Matematika kali ini terasa sekali panjangnya. Bukan karena tegang gak bisa mengerjakan soal tapi sebal. Kalau tahu siapa yang menulis surat kaleng itu, sudah aku bejek-bejek deh.

Bel akhir sekolah berbunyi panjang. Hari sudah menjelang senja. Cuaca pulang sekolah hari ini memang cukup bersahabat. Cerah. Hari yang pas buat kongkow-kongkow bareng teman di taman sambil menunggu jemputan datang. Tapi kali ini karena aku sedang badmood jadi kuabaikan ajakan teman-teman. Aku langsung menuju taksi yang biasa standby menunggu di depan gerbang saat sekolah usai. Tak kuajak May bareng pulang. Aku lagi ingin sendiri.

Sepajang jalan di dalam taksi, pikiranku tak pernah luput dari isi surat cinta yang bikin heboh pelajaran matematika tadi. Siapa yang menulisnya? Apakah teman sekelas? Aku mencoba mengira-ngira siapa saja cowok di kelasku yang agak-agak beda. Ah, gak ada. Mereka semua tengil-tengil lagaknya. Apalagi Sayuga. Cowok yang sempat aku taksir diam-diam di kelas sepuluh itu. Selalu membuatku tak nyaman dengan keusilan dan keisengannya. Hingga rasa suka itu perlahan-lahan menjadi rasa sebal bin muak. Dan sebelnya lagi, sekarang di kelas sebelas, cowok itu satu kelas lagi denganku di kelas XI IPA 4. Lengkap deh hari-hariku selalu diisi dengan ulahnya yang super duper menyebalkannya.

Sayuga itu anaknya cukup manis. Dengan rambut lurus berponi ala-ala bintang Korea dan tubuh yang kurus kaya Iqbal Junior serta senyum yang aduhai menggoda menjadi kombinasi yang pas untuk disebut cowok manis. Tapi sayang kelakuannya itu yang bikin nilai plus plusnya dia di mataku menjadi super minusnya. He he…..kenapa jadi cowok itu yang aku analisa. Dia harus cowok pertama yang aku blacklist dari daftar si penulis surat kaleng itu.

“Mau diantar ke mana, Neng?” kata Sopir taksi membuyarkan pikiranku.

“Lho, ini baru sampai mana, Pak? Kok belum sampai rumah?” aku balik tanya. Sebab kulihat gerbang sekolah masih terlihat di samping kaca jendela taksi.

“Belum berangkat, neng. Dari tadi ditanya malah bengong aja…..” wuaduh, malunya aku.

“ Ke Jalan Kawali no 25, Pak” jawabku cepat untuk mengusir malu ketahuan bengong. Taksi langsung meluncur cepat.

****

Seusai makan malam, aku langsung pamit masuk kamar. Dengan alasan mau mengerjakan tugas. Padahal aku sudah tak sabar mau chat dengan May. Kali aja sohibku itu sudah punya perkiraan siapa cowok yang menulis surat cinta untukku itu. Si May kan orangnya jago dalam menganalisa matematika. Nah, kalau kasus di matematika saja dia jago, kali aja kasus surat kaleng baginya semudah membalikkan telapak tangan.

Sambil tengkurap di atas kasur. Kutekan nomor May.

“May, gimana? Apa analisamu? Siapa kira-kira?” berondong chatku padanya. Satu menit, dua menit, sampai satu jam belum juga di read chatku. Ke mana ini si May. Aku gak sabaran kutelepon akhirnya.

“Hallo, siapa, nih?” suara dari seberang telepon terdengar malas.

“Hi May. Kamu ini lagi ngapain sih? Ko Wa-ku nggak di read? Gimana analisamu? Siapa yang iseng membuat surat kaleng itu?”

“Ha…ha….ha….weyyyyyy panjang banget tanyanya kayak kereta api aja,” May malah tertawa.

“Gak sabaran, tahu! Kamu ini gimana sih. Mau bantu nggak? Jangan bilang jago analisa ya kalau gak bisa nemuin tuh cowok,” aku sewot.

“Tenang….calm down tuan Putri. Detektif istanamu ini masih mencari strategi. Dan. Binggo. Aku dapat jawabnya. Tunggu besok di sekolah ya, tuan Putri. Aku sekarang mau bobo chantik dulu.” Tup. Hp diputus sepihak. Ih….May kamu….ini. geregetan aku. Dan percakapan malam itu berakhir tanpa tahu jawaban May. Duuh….bisa gila malam ini. Aku guling-guling di kasur. Tak bisa memejamkan mata sedikitpun.

***

Keesokan harinya. Weker di kamar berdering kencang tiga kali menandakan sudah yang ketiga kalinya weker itu berbunyi. Aku mencoba membuka mataku berat. Karena baru jam tiga pagi aku bisa tidur. Kuraih weker itu. Woalaaah….. sudah jam enam pagi. Alamat kesiangan ini pikirku kaget. Aku langsung berlari ke kamar mandi. Ada waktu setengah jam untuk mandi dan berpakaian.  Setengah berlari aku menuruni tangga menuju ke depan rumah.

“Bu….Putri pamit, ya,” teriakku.

“Hei, sarapan dulu, Put,” kata ibu tergopoh mengejarku dari dapur.

“Nggak sempat, Bu. Kesiangan. Mas Ikaaaaal….Putri nebeng ke sekolah ya,” tanpa persetujuannya aku langsung lompat duduk di sadel motor kakakku yang sudah bersiap pergi ke kampus.

“He…apaan ini. Mas sudah terlambat. Ayo turun,” katanya

“Puput juga terlambat, Masku sayang. Ayolah anter adikmu yang manis ini?” Kataku merajuk memasang wajah memelas. Mas Ikal nyerah. Disorongkannya helm untuk aku pakai.

Sampai di sekolahku, aku langsung mencari May.  Mana anak itu. Pikirku sambil celingukan. Tumben belum nyampai di kelas. Aku duduk. Kusimpan tas di laci bawah bangku. Kursi May masih kosong. Padahal dua menit lagi bel masuk berbunyi.

Sampai jam pertama berlangsung kursi di sampingku masih kosong. May belum datang. Kenapa? Aku mulai was-was. Pelajaran Fisika dari Pak Teddy tak menarik hatiku. Aku takut terjadi sesuatu pada May di jalan karena semalam ia masih riang tak kenapa-kenapa. Baru saja hendak ku-whatsapp, anak itu  nongol. Untung Pak Teddy lagi baik, jadi ia gak banyak nanya mempersilakan May duduk begitu saja.

“Kamu, kesiangan? Kenapa?” Bissikku padanya.

“Jangan banyak tanya dulu. Besok kita lihat ada apa di bangkumu, sekarang belajar dulu, ok” katanya tenang bikin aku penasaran.

***

Keesokan harinya, aku jemput May di rumahnya untuk ke sekolah bareng. Semalaman aku gak bisa tidur. Apa yang telah dilakukan May. Aku  duduk di kursi sambil meletakkan tas di laci meja. Tanganku meraba ada sebuah amplop pink. Aku menatap May. Ia tersenyum senang.

“Ayo buka,” katanya. Aku mengangguk. cepat kurobek amplop itu.

Wahai putriku nan kupuja…..Akhirnya engkau menjawab juga. Lega rasanya. Ternyata cintaku padamu tak bertepuk sebelah tangan. Aku akan datang ke rumahmu sabtu malam ini sebagai lelaki dambaanmu. Nantikan aku, putri jelitaku.” Glekk, aku menelan ludah gak percaya dengan isi surat kaleng yang kubaca. Kupelototi May. Ia hanya terkekeh. Kupukuli dia sebal.

“Kamu tuh ya……May. Kau bikin balasan surat itu?”  Ia hanya ngakak.

“Sudah…Put. Tunggu ntar malam. Siap yang akan mengetuk pintu hatimu…. Eh salah, rumahmu maksudku,” katanya sambil mengedipkan mata.

“Maaaayyyyyyy…….gila kamu ya” sebelum kupukuli lagi May sudah lari ngibrit ke kantin. Aku mengejarnya. Kami akhirnya tertawa terbahak di kantin.

Malam minggu itu akhirnya tiba. Aku sama May sudah menunggu sejak sore di ruang tengah rumahku.

“Teeeet……ting tooooong,” bel di depan pintu berbunyi panjang. Kami segera berlari berburu membuka pintu. Dan…….saat kulihat sosok di depan pintu, hampir saja bola mataku lompat ke luar. Kaget. Tak terkecuali May.

“Pak Tigor????” kami serempak berteriak tak percaya. Setelah itu,  babak baru dalam hidupku pun di mulai.

 

Karya : Leni Widiastuti

 

Kolom Komentar Facebook
To Top