Kahiji Story

Sedang atau Selesai Dilakukan Tetap Akan Mati

Darah di mana-mana. Mayat-mayat yang bergelimpangan. Ada yang putus kakinya. Ada yang kepalanya sudah tak di badannya lagi. Bahkan ada yang badannya sudah hancur. Sungguh aku tak tega melihatnya. Kenapa harus seperti ini?

Sejam lalu, aku lahir. Terkejut aku tatkala melihat banyak mayat di mana-mana. Aku baru lahir, tetapi harus melihat hal yang menyedihkan seperti ini. Aku sama sekali tak mengerti. Kata yang lain, kita harus menerima takdir. Tapi kenapa? Kalau begitu apa gunanya kita lahir?

Malam pun tiba. Saatnya pergi ke sana. Ke tempat di mana hidup dan mati dipertaruhkan. Kawanku menyebutnya sebuah tugas. Tugas yang membuat nyawa sudah tidak ada artinya. Demi kelangsungan generasi selanjutnya. Aku tak habis pikir.

Tapi mau tak mau aku harus pergi. Sudah menjadi tugasku dan kawan-kawanku. Walaupun aku berpikir keras dan menentangnya sekalipun, hal itu tak akan mengubah apapun. Sudah takdir. Aku pasrah. Di sana lah aku harus melihat pemandangan tidak mengenakan itu. Pertaruhan sebuah nyawa. Mati di tangan makhluk raksasa. Sungguh aku benar-benar tak tega.

Makhluk raksasa. Sungguh aku sangat iri terhadap mereka. Mereka dengan riang gembiranya bercengkrama tanpa peduli apa yang sudah mereka perbuat. Pintar dan kuat. Hidup mereka penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Tetapi tentu saja aku juga benci mereka. Merekalah yang membuat kawan-kawanku mati. Seenaknya saja. Mentang-mentang kami kecil, kami dihabisi oleh mereka. Membuat kami harus mati dengan cara yang mengenaskan.

Kalau ingin balas dendam, aku harus melakukan tugas ini dengan baik. Setelah mengitari cukup lama akhirnya aku menemukannya. “Padahal punya kasur, tapi kenapa malah tidur di sofa. Aneh.” Aku langsung mendarat. Tapi sayang, makhluk raksasa tersebut itu pindah posisi tidur.

Aku enggak menyerah. Tugas harus terlaksana demi dendam kawan-kawanku. Setelah itu, aku… eh tunggu sebentar. Setelah tugas ini selesai, aku akan mati. Hah? Jadi sama saja? Jika datang ke sini untuk menjalankan tugas harus mempertaruhkan nyawa, besar kemungkinan bisa mati, tetapi setelah menjalankan tugas ini pun aku akan mati. Apa-apaan ini? Apa kami ada untuk mati? Kalau begitu apa gunanya kami hidup? Uhh, aku tak mengerti sama sekali.

Merenung. Ini yang kulakukan sekarang. Aku harus menunda tugas karena baru tersadar sedang atau selesai menjalankan tugas aku akan tetap mati.

Makhluk raksasa. Mereka makhluk yang sempurna. Hidup mereka tidak hanya lahir, melaksanakan tugas, dan setelah menyelesaikannya mati begitu saja. Hidup mereka ditentukan oleh mereka sendiri. Mereka bisa menjadi apa yang mereka mau asalkan berusaha dan berdoa. Hidup mereka sangat berarti. Bagi mereka, kami hanyalah pengganggu.

Apa kami ada untuk mati? Kalau begitu apa gunanya kami hidup? Apa hidupku berarti? Sekali lagi, aku bertanya seperti itu. Hah… Aku hanya bisa pasrah.

Huh… Meskipun aku menahan diri untuk tidak melakukan tugas tetap saja naluriku memaksa untuk melakukannya. Aku pun kembali mencari makhluk raksasa tersebut. Saat sedikit lagi aku mendekati makhluk raksasa tersebut, aku mencium sesuatu. Sesuatu yang membuatku mual. Bau apa ini? Apa yang makhluk raksasa ini pakai? Uhh… Aku tak kuat. Sepertinya membunuh kami dengan tangan kosong saja belum cukup. Karena mereka pintar pasti mereka menciptakan sebuah obat yang membuat aku dan kawan-kawanku tidak bisa mendekati mereka.

Apa aku pindah tempat saja ya? Sepertinya begitu. Karena semua makhluk raksasa di sini memakai sesuatu yang aku tak bisa mendekati mereka. Baunya sangat membuatku mual. Aku pindah ke tempat sebelahnya. Tempat yang ini lebih kecil dari tempat yang tadi. Ah tempat ini juga, makhluk raksasanya memakai obat itu. Uhh, baiklah sepertinya aku harus pindah lagi.

Untuk menghindari makhluk raksasa yang memakai obat itu, aku pindah agak jauh dari sebelumnya. Tunggu sebentar. Apa itu? Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Sebuah benda seperti tongkat yang atasnya berbentuk lingkaran. Dari lingkaran itu ada besi-besi yang menempel dan mengeluarkan sesuatu seperti listrik. Kasihan. Kawan-kawanku langsung mati saat kena benda tersebut. Sepertinya karena terkena listriknya.

Pindah lagi. Sebetulnya aku tak ingin menjalankan tugas ini. Aku lelah. Sayapku sudah sampai batasnya. Kakiku hilang satu. Lebih-lebih lagi aku tak ingin melihat pemandangan ini. Mayat-mayat dari kawan-kawanku yang bergelimpangan. Darah di mana-mana. Aku sangat tak tega untuk melihatnya. Makhluk raksasa itu, kenapa mereka punya banyak cara untuk membunuh kami? Kami kan hanya menjalankan tugas. Memang kami mengganggu waktu istirahat mereka. Tapi apa mereka benar-benar terganggu sekali sampai harus cari banyak cara agar kami mati? Kami kan kecil, mereka raksasa. Aneh rasanya.

Uhh, aku tak bisa menahan naluriku lebih lama lagi. Ini sudah seperempat malam. Aku harus cepat sebelum matahari nampak. Dan akhirnya aku berhasil menjalankan tugas dengan baik. Perutku sudah gemuk. Aku sudah tak bisa terbang. Saatnya aku mencari tempat aman untuk melahirkan anakku.

Tumpukan baju. Tempat favorit kawan-kawanku. Aku pun ke situ.

“Wah, kamu dapat banyak juga,” kata salah satu kawanku tepat berada disebelahku. Aku menjawabnya dengan anggukan. Setelah ini aku akan mati. Hidupku sampai di sini saja.

“Aku enggak mau mati,” gumamku.

“Kenapa kamu enggak mau mati?”

“Hmm… Sebenarnya…” Ah, aku bingung mau bicara seperti apa. Aku takut kawanku itu menertawakan aku karena mempertanyakan hal ini. Tapi…

“Kenapa kita hidup? Kalau ujung-ujungnya kita setelah melahirkan akan mati.” Aku menjelaskan. Kawanku itu mendengarkan dengan saksama. “Kalau seperti itu, kupikir kita tak harus ada. Lihat tuh sebagian kita mati ditangan mereka, makhluk raksasa, makhluk sempurna. Kita hanya melakukan tugas kita. Tapi kenapa kita harus berakhir seperti ini? Apa hidup kita berarti?” Aku menatap kawanku itu, berharap menemukan jawaban.

“Setiap makhluk hidup yang diciptakan Tuhan pasti mempunyai perannya masing-masing. Tak ada yang sia-sia.” Begitu jawabnya dan aku masih tak mengerti.

“Lantas apa gunanya kita? Kita berguna karena menggangu mereka? Kita ini seperti hama bagi mereka.”

“Seperti yang kamu bilang, mereka sempurna. Mereka adalah makhluk sempurna yang diciptakan oleh Tuhan. Tidak hanya itu, sebagian dari mereka merasa dirinya paling kuat dan hebat. Makhluk sempurna tersebut di anugerahi akal, sesuatu yang tidak kita miliki,” jelas kawanku.

“Akal? Apa itu?”

“Intinya mereka mempunyai kekuatan untuk berpikir dan menciptakan sesuatu dengan kepintaran mereka.” Aku semakin mendengarkan dengan saksama. “Kau pikir kenapa para makhluk raksasa itu menciptakan berbagai cara untuk membunuh kita? Kita kan kecil.” Benar juga. Hal itu memang aneh. “Apa karena kita mengganggu waktu istirahat mereka?”

“Yap betul sekali. Seorang makhluk raksasa yang terkenal kuat sekalipun akan terganggu tidurnya hanya karena ada kita. Mereka tak berdaya dengan kita yang kecil. Tahu kawan-kawan kita yang belang-belang? Kawan-kawan kita itu bisa membuat mereka sakit bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Oleh karena itu, makhluk raksasa tersebut berusaha keras untuk menciptakan obat yang mampu untuk mengusir kawan-kawan belang dan kita juga pastinya,” jelas kawanku.

“Tapi… Aku masih tidak mengerti, apakah hidup kita berarti atau tidak?” kataku.

“Kita diciptakan untuk mengingatkan para makhluk raksasa untuk tidak sombong. Bahwa apa yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan semata. Dengan adanya kita para makhluk raksasa tersebut bisa mengasah kepintaran dan kemampuan mereka. Apa hidup kita berarti? Tentu saja. Adanya kita, mewarnai hidup para makhluk raksasa tersebut,” jelasnya dengan mantap.

Aku terdiam mendengar jawabannya tersebut. Mewarnai hidup ya? Mempunyai peran masing-masing? Aku melihat sekeliling. Apa semut yang dapat mengangkat makanannya yang lebih besar darinya juga mempunyai peran? Meskipun mereka harus terinjak-injak oleh makhluk raksasa. Apa peran mereka? Makhluk raksasa juga? Apakah mereka juga memiliki peran? Sepertinya begitu. Peran mereka pasti lebih berat dari pada kami.

“Hey, terima ka-” Dia sudah mati. Gawat.

Pak….!!! “Huh akhirnya mati juga tuh nyamuk. Jangan gigit ibuku.”

 

Karya : Shulha

Kolom Komentar Facebook
To Top