Kahiji Story

Last Night

Arka terbangun dari tidurnya, lagi lagi kejadian pada malam itu menjadi bunga tidurnya. Kejadian itu masih terekam jelas di otaknya, sepertinya Arka tidak akan bisa melupakannya bahkan mungkin untuk selamanya.

Flashback on

Pada suatu malam Arka hanya bias melihat pertengkaran papa dan mamanya dari belakang pintu kamarnya. Hujan lebat beserta dengan petir membuat suasana semakin menakutkan bagi Arka. Sebenarnya Arka tidak tahu pasti apa yang mereka ributkan, karena umur Arka masih delapan tahun. Yang jelas mereka bertengkar gara gara wanita yang sedang berdiri di depan pintu sambil menggendong seorang anak seusia Arka atau mungkin lebih muda. Ya, wanita itu adalah wanita selingkuhan papa Arka, dan anak yang di gendong oleh wanita itu adalah anak hasil pernikahan diam diam papanya arka.

“ baik kalo papa tetap memaksa anak itu tinggal di rumah ini, Mama dan Arka yang akan pergi ’’ ucap mama Arka sambil menangis, karena papa Arka tetap memaksakan keputusannya, yaitu meminta anak dari wanita selingkuhannya untuk tinggal bersamanya.

Setelah mengatakan ucapan itu lalu mamah Arka menarik tangan Arka dan menghampiri wanita yang sedang berada di depan pintu itu .

“kalau kamu mau anak kamu tinggal di rumahku, kamu harus ikut denganku sekarang!’’ ucap mama Arka sambil menarik lengan wanita  yang menyebabkan orangtua Arka bertengkar, lalu wanita itu menurunkan anak perempuan dari gendongannya sambil berkata “sayang kamu ke papah dulu ya, mama mau pergi sebentar sama tante Luna” ucap Rania menyuruh anak perempuannya untuk menghampiri papahnya.

“Luna kita mau kemana? Tolong kamu jangan begini” Rania si wanita yang menyebabkan orang tua Arka bertengkar memohon kepada Luna.

~~~

Mobil yang di kendarai Luna melaju dengan cepat, di tengah derasnya air hujan dan gelapnya malam. Arka yang berada dalam mobil juga merasakan takut, tubuhnya gemetaran dan kedua matanya basah karena menangis.

Entahlah Arka sendiri tidak tau kemana mamanya akan mengajak ia dan Rania pergi.

“mama, mama hati hati bawa mobilnya” Arka mencoba berbicara kepada mamanya, namun mamanya  tetap melajukan mobil dengan cepat, dan tidak mendengarkan ucapan Arka.

“aku sudah berkorban  banyak untuk merebut Mahendra dari kamu, sampai akhirnya aku berhasil, tapi ternyata kalian berdua menikah diam diam di belakangku? Hah?!!!” ucap Luna kepada Rania dengan nada yang cukup tinggi.

“maafkan aku Lun, aku benar benar sangat mencintai Mahendra”  mereka mulai berbicara tentang masa lalu. Dan Arka hanya bisa menjadi pendengar.

“kamu pikir aku tidak mencintai Mahendra?! Aku juga sama sepertimu, bodoh!!” ucap Luna sambil terisak isak karena tangisannya.

“Luna awas!!!” di depan mobil yang di kendarai luna ada truk yang melaju kencang . tapi sebelum mobil yang di kendarai Luna menabrak truk. Luna langsung membuka pintu mobil yang berada di sebelah Arka, dan mendorong Arka agar keluar dari mobil. Dorongan itu menyebabkan kepala Arka terbentur trotoar. Tetapi setidaknya Arka tidak mengalami kecelakaan maut itu.

Dulu Rania dan Luna bersahabat namun sayang persahabatan mereka hancur gara gara mereka mencintai seorang pria yang sama, yaitu Mahendra. Mahendra adalah seorang pria yang menyukai Rania sedari SMA. Luna dan mahendra adalah sepasang kekasih yang saling mencintai hingga akhirnya hubungan mereka hancur disebabkan oleh luna yang juga sangat mencintai Mahendra.

~~~

Benturan keras di kepala Arka membuat ia kehilangan inggatannya. dan mengalami pendarahan di otak, Sedangkan Luna dan Rania meninggal di tempat kejadian. Karena kecelakaan itu Arka mengalami koma beberapa bulan. Namun, setelah bangun dari komanya Arka tidak bisa mengingat apapun. Tapi untungnya setelah beberapa bulan bangun dari komanya, sedikit demi sedikit Arka mulai mengingat kejadian pada malam itu. Ya, kejadian ketika mamah dan papahnya bertengkar.

Tetapi entah kenapa Arka tidak bisa mengingat kejadian ketika di dalam mobil, yang Arka tau penyebab mamanya meninggal adalah Rania si wanita selingkuhan papanya. berhubung adiknya yang bernama Adarra adalah anak dari Rania, Arka jadi membencinya, dan bahkan ia berkata kepada papahnya ia tidak akan pernah menganggap Adarra sebagai adiknya.

Adara frisella adalah adik tiri Arka aldric usia Adarra hanya berbeda 1 tahun dari Arka, Adarra merupakan seorang perempuan yang sangat tegar, ia juga memiliki budi pekerti yang baik dan wajahnya juga cantik.

Flasback of

Arka mengumpat dalam hati karena ia bangun kesiangan dan yang membuat Arka kesal adalah penyebab ia terlambat bangun karena mimpi tentang kejadian pada malam itu.

Terdengar suara dari arah pintu kamarnya memanggil manggil Arka, ya siapa lagi kalau bukan Adarra, sang adik tiri yang di benci Arka.

“kak bangun, ini udah siang Dara udah nyiapin sarapan” ucap Adarra sambil mengetuk ngetuk pintu kamar Arka.

Tidak butuh waktu lama untuk mandi dan bersiap siap. Arka sudah turun ke bawah dengan rapi memakai baju seragamnya. Melihat Arka sudah turun Adarra langsung menghampiri Arka.

“kak ayo sarapan dulu” ucap Adarra menyuruh Arka sarapan dengan raut wajah yang ceria.

“gue gak pengen, ini udah terlambat banget.  lo ngerti gak sih?” ucap Arka sambil menyiratkan kebencian pada Adarra. Kemudian, Arka berjalan keluar rumah dan menaiki motornya. Adarra langsung saja mengikuti Arka dengan raut wajah yang sedih karena masakannya tidak dimakan.

Arka dan Adarra tinggal berdua di rumahnya sedangkan papanya sibuk bekerja di luar kota. papahnya selalu pulang seminggu sekali. Menyebabkan Arka dan Adarra kehausan kasih sayang orang tuanya. Adarra selalu mengerti bahwa papanya melakukan itu demi kebahagiaannya dan Arka. sedangkan pemikiran Arka berbanding terbalik dengan Adarra, Arka selalu mengira bahwa papanya tidak peduli dengannya.

Melihat Adarra menaiki motornya, Arka terlihat sangat kesal karena ia sangat tidak suka jika berangkat sekolah bersama Adarra. Tetapi meskipun kesal Arka tidak menyuruh Adarra untuk turun dari motornya karena ia tahu Adarra baru saja pindah ke kota ini.

Setelah menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah akhirnya mobil yang di kendarai Arka telah sampai di depan gerbang sekolah, Arka mengumpat dalam hati karena gerbangnya sudah tertutup berarti itu pertanda bahwa bel masuk telah berbunyi. menyebabkan ia dan Adarra di hukum oleh Bu Lina untuk menyapu halaman yang berada di pinggir lapangan.

Melihat halaman itu cukup luas Arka mengumpat dalam hati sebenarnya mana mau ia menyapu halaman ini, dirumah saja ia jarang membereskan kamarnya sehingga kamarnya selalu berantakan.

“kak Dara aja yang nyapu, kan ini juga gara gara Dara” ucap Adarra kepada arka sambil merasa bersalah karena Adarra beranggapan bahwa mereka terlambat gara gara Adarra yang sibuk memasak dan tidak membangunkan Arka.

“udah lo gak usah so baik, munafik banget sih, padahal lo juga gamau nyapu kan” ucap Arka yang masih saja menatap Adarra dengan menyiratkan kebencian.

Adarra hanya membalasnya dengan gelengan kepala sambil menampilkan wajah yang sedih ia bergumam dalam hati “kak meskipun kakak benci sama Dara tapi Dara sayang sama kakak, meskipun kita berbeda ibu” ucap Adarra dalam hati dan hal itu berhasil membuat air mata Adarra menetes.

Akhirya Adarra telah selesai menyapu. Sedangkan Arka sedari tadi ia sudah menghilang entah kemana.

***

Kring…kring…

Bel istirahat berbunyi Arka dan semua siswa siswi yang berada di kelas berhamburan keluar menuju kantin. Karena, sudah sedari tadi cacing di perut mereka berdemo demo meminta di beri makan.

Dalam perjalanan menuju kantin Arka bersama tiga orang temannya merasa risih karena mereka para kaum hawa berteriak teriak tidak jelas.

“hey ka Arka ganteng”

“anjir parah parah tambah ganteng aja”

“eh guys lihat tuh kak Arka lewat”

“leleh aku bang”

Kebanyakan mereka memuji paras Arka yang tampan membuat ketiga sahabatnya iri dengan Arka.

“apaansih mereka lebay banget deh, gue risih tau dengernya” ucap Arka sambil mengeluh kepada teman temannya.

“yaudah kalo lo risih sini kita tukeran muka aja biar gue bisa ngerasain jadi orang ganteng” sahut Kafin salah satu sahabat Arka dengan ucapan konyolnya.

“hahaha garing lo”  teman Arka yang lainnya ikut tertawa sedangkan Arka ia terlihat kesal dengan tingkah konyol temannya.

Setelah sampai di kantin tempat favorit mereka yaitu di meja paling ujung Kafin memesankan makanan untuk teman temannya. terlihat Adarra dengan Seila sedang mencari cari meja kosong.

“eh itu kayaknya adik lo deh Ar, kasian banget mereka gak kebagian meja” ucap Yodi kepada Arka sambil menunjuk nunjukan ke arah Adarra yang sedang berdiri mencari meja kosong.

“suruh ke sini aja” sahut Ferdy lalu Ferdy pun melambai lambaikan tangannya ke arah Adarra sambil berkata “Adarra duduk di sini aja”

“ngapain sih lo pake panggil dia segala” ucap Arka dengan kesal kepada Ferdy karena memanggil Adarra

“itukan Adik lo, kenapa sih lo kayaknya gak suka banget sama Adik lo sendiri, seharusnya kalian itu saling menyayangi ” ucap Ferdy. lalu Yodi mengangguk pertanda setuju dengan ucapan Ferdy, Arka tidak membalas perkataan teman temannya karena ia tahu kalo berdebat dengan teman temannya pasti tidak akan ada ujungnya.

Merasa ada yang memanggil, Adarra dan Seila langsung menuju ke arah sumber suara.

“hai Adarra sini duduk” ucap yodi sambil menarik tangan Adarra untuk duduk.

“kok Adarra aja sih yang di suruh duduk, gue enggak?” ucap Seila dengan kesal.

“eh iya sini Seila juga duduk” ucap Ferdy menyuruh Seila untuk duduk di sampingnya.

Lalu datang Kafin yang membawa pesanan ketiga temannya.

“nih pesanannya, nyusahin amat sih kalian” ucap Kafin sambil memberikan pesanan ketiga temannya.

“eh Adarra, maaf ya aku gak pesenin soalya aku gak tau kamu bakalan kesini” ucap Kafin kepada Adara sok pake Aku Kamu karena ia menyukai Adarra jadi ia berusaha untuk berbicara sopan. Ia juga meminta maaf karena pasalnya ia tidak tau kalau Adarra akan bergabung bersama mereka.

“ih apaansih Lo sok pake Aku Kamu geli tau dengernya” ucap Yodi sambil merinding geli karena mendengar ucapan Kafin tidak seperti biasanya.

“ iya gapapa kok kak kafin” sahut Adarra

Kemudian Yodi, Ferdy dan Kafin melakukan ritual makannya. Sedangkan Arka ia hanya meminum es tea.

“kak, kok gak makan kan tadi pagi kakak belum makan, kakak harus makan. nanti kalo gak makan kakak sakit “ ucap Adarra kepada Arka dengan raut wajah yang khawatir.

“cie Adarra perhatian banget sama kakaknya, Abang Kafin juga pengen dong di perhatiin” ucap kafin genit sambil mengedipkan sebelah matanya.

“apaansih sok perhatian banget, gak usah pencitraan deh, dan inget ya gue itu bukan kakak lo” ucap Arka dengan nada yang lumayan tinggi sambil menyiratkan tatapan bencinya kepada Adarra. kemudian Arka berdiri dari duduknya, dan pergi meninggalkan teman temanya.

~~~

Kring…kring…

Bel pulang telah berbunyi semua siswa siswi yang berada di kelasnya berhamburan keluar, Arka langsung cepat cepat menuju ke parkiran. karena kalau tidak, mungkin Adarra sudah ada menunggu di depan mobilnya. Arka malas jika harus pulang dan semobil bersama Adarra. jadi ia berniat akan pergi ke rumah Kafin dulu dan tidak pulang kerumah.

Sedari tadi, Adarra mondar mandir di parkiran. wajahnya terlihat khawatir karena ia takut tidak akan bisa pulang. bagaimana tidak? ia Belum genap satu bulan berada di kota ini, karena sebelumnya ia tinggal bersama Neneknya, jadi ia takut akan salah jalan. Biasanya Adarra berangkat dan pulang sekolah bersama Arka, namun kini mobil Arka tidak terlihat di parkiran.

Adara terus berjalan di trotoar berharap ada orang yang dikenalinya, namun nihil dari tadi ia berjalan jalan kesana kemari selama dua jam namun tidak menemukan orang yang dikenalinya, Adara tersadar bahwa dirinya tidak tau dimana ia berada.  “ya Tuhan dara pengen pulang” batinnya dalam hati.

***

Langit semakin mendung matahari sudah mulai terbenam, Arka yang masih berada di rumah Kafin beranjak pulang, ia mulai menaiki motornya untuk pulang ke rumah.

sesampainya di rumah Arka terkejut karena papahnya sudah pulang dan sedang duduk di ruang keluarga. merasa ada yang membuka pintu, papa arka yang bernama Mahendra langsung berdiri dan menghampiri Arka.

“dari mana kamu, kok baru pulang jam segini?” tanya mahendra tegas.

“dari rumah kafin pah” jawab arka.

“dimana Dara? Kok gak bareng sama kamu”

“loh, bukannya Dia ada di rumah”

“jangan ngaco deh, dari siang Papah di rumah” ucap Mahendra

“jangan bilang kamu gak pulang bareng Dara” tanya Mahendra lagi

“iya pah maaf, Arka tadi pulang duluan” Sesal arka

“kamu gimana sih! Disuruh jagain Dara aja gak bisa, kamu tau kan Dara baru tinggal di kota ini?” ucap mahendra dengan marah sedangkan Arka hanya diam.

“pokoknya sekarang kamu harus cari Dara sampai ketemu!” pinta Mahendra

“iya pah” jawab Arka

“nih, pake mobil papah, biar gak kehujanan” ucap Mahendra sambil menyodorkan kunci mobilnya.

***

Hujan deras di tambah Angin yang kencang membuat Adarra kedinginan. sedari tadi ia hanya berjalan tak tau arah, Dan bahkan ia tidak tau dimana dirinya sekarang. Ponselnya tidak aktif karena kehabisan baterai, tas dan bajunya basah kuyup karena Adarra tidak berteduh sejak hujan turun. yang di pikirkannya sekarang adalah pulang tak peduli meskipun suara petir bergemuruh ia tetap berjalan di trotoar. Merasa dirinya sudah tidak kuat untuk berjalan bahkan untuk berdiri, Adarra berusaha berjalan ke arah pemberhentian bus untuk duduk disana.

Hujan tak kunjung berhenti, dengan seenaknya ia turun tanpa mengetahui keadaan Adarra. Adarra tidak suka hujan namun juga tidak membencinya, karena hujan adalah rahmat tuhan yang harus Adarra syukuri. Yang membuatnya tidak menyukai hujan adalah karena hujan selalu datang di saat yang tidak tepat, dimana Adara sedang merasa sedih selalu saja turun hujan. Saat ini pun ia tidak mengharapkan hujan turun agar ia bisa terus berjalan untuk bisa pulang ke rumah dan bahkan saat kejadian malam itu dimana ia kehilangan orang yang paling ia sayangi selalu saja disaat hujan turun. Ya, pada saat itu adalah terjadinya kecelakaan yang membuat mamanya meninggalkan Adarra sendiri.

Angin malam yang dingin menusuk nusuk kulit Adarra membuat gadis itu menggosok gosokkan tangannya beberapa kali. Tubuhnya sudah tidak kuat menahan dingin, bibirnya pucat pasi, dan pandangannya terlihat kabur. Dan akhirnya pandangannya kembali jelas setelah ia melihat orang yang paling ia tunggu tunggu turun dari dalam mobil sambil membawa payung. Kemudian orang itu menghampiri Adarra yang terlihat sudah lemas.

“ayo pulang! gara gara lo, Gue dimarahin Papah” ucap Arka dingin tanpa ekspresi meskipun melihat keadaan Adarra yang mengkhawatirkan.

“kak…. dingin” ucap Adarra pelan namun masih di dengar Arka.

“gausah pura pura deh, ayo cepet!” ucap Arka namun ketika ia melihat jari tangan adarra yang keriput karena kedinginan dan bibir Adarra yang pucat membuat ia percaya bahwa Adarra benar benar kedinginan. Namun Arka tidak memperdulikan Adarra dan berjalan ke mobil bahkan ia tidak memberikan payung untuk Adarra

“tapi kak… Dara gak kuat jalan” ucap Adarra sebelum Arka memasuki mobil. suaranya terdengar sangat pelan dan terkalahkan oleh derasnya hujan.

Arka tidak mendengar perkataan Adarra ia membuka pintu mobil dan langsung memasukinya. Di dalam mobil, Arka melihat Adarra yang berusaha untuk berdiri dan berjalan namun baru selangkah kakinya berjalan pandangannya kabur dan dia ambruk di bawah derasnya air hujan. Melihat hal itu Arka lari keluar dari mobil tanpa menggunakan payung sangking terburu burunya sehingga kini bajuna sudah basah kuyup. Arka sangat khawatir akan kondisi Adarra bisa bisa ia di marahi habis habisan oleh papahnya.

Sesampainya di rumah, benar saja Arka dimarahi habis habisan oleh papahnya karena tidak bisa menjaga Adarra dengan baik. Hal itu membuatnya iri, karena Arka beranggapan papahnya hanya memperdulikan Adarra saja dan tidak memperdulikan dirinya sama sekali. Sehingga bertambahlah rasa bencinya kepada Adarra.

***

Paginya Adarra tidak sekolah seperti biasanya karena ia mengalami demam yang cukup tinggi, sebernya Adarra sangat ingin sekali pergi ke sekolah, toh di rumah juga ia bakalan sendirian karena papahnya sudah berangkat ke luar kota lagi, sejak tadi pagi.

Sedangkan di sekolah, kini Arka sedang duduk di kantin dan menatap kosong ke arah depan. Kenapa ia tidak bisa mengingat kejadian 10 tahun lalu saat ia, Luna, dan Rania berada di dalam mobil ketika kecelakaan akan berlangsung. Rasanya ia seperti sudah terlalu berlebihan membenci Adarra, bahkan ia pun sendiri tidak tau apa kesalahan Adarra. hanya saja yang ada di pikirannya sekarang Adarra dan ibunya lah yang membuat keluarga Arka hancur. Saat sedang melamun tiba tiba ada seseorang di belakang Arka. Seseorang itu menepuk bahu Arka, menyebabkan Arka sedikit terlonjak kaget.

“wahhh gak bener nih, pagi pagi kok udah ngelamun. Kenapa?” tanya Kafin sambil menepuk bahu arka.

“ngagetin banget lo jadi orang” ucap Arka sambil mengelus ngelus dadanya karena kaget

“ya lagian lo kok ke kantin gak ajak ajak, main pergi pergi aja” ucap Kafin kesal

“orang tadi di kelas lo lagi asik main game, gue kan udah ajak. Lo kali yang budeg”

Kemudian Kafin duduk di sebelah Arka dan tidak menghiraukan ucapan Arka

“lo ngelamunin apa sih dari tadi?” tanya Kafin terlihat sedikit kepo

“kepo lo jadi orang”

“oh jadi sekarang gitu ya lo, punya masalah tapi gak cerita. Oke fine” ucap kafin dan mulai berdiri dari duduknya, Kafin berakting ala ala  cewek  yang lagi ngambek.

“ya elah selow aja kali. Kaya yang gak tau aja masalah gue”

“oh jadi ini masalah Adarra lagi?” tanya Kafin

“iya, rasanya gue makin benci aja tuh sama dia, gimana gue gak benci coba orang tiap kali gue jahatin dia tetep aja baik dan peduli sama gue”

“nah itu lo tau kalo Adarra baik, ngapain lo harus benci?” nasehat Kafin

“ya gue pikir dia itu udah ngehancurin keluarga gue dan bahkan sekarang papah lebih peduli sama dia dibandingkan gue” ucap Arka lirih.

“ingat ya Arka. suatu saat omongan gue ini bakal terbukti, lo jangan terlalu berlebihan membenci seseorang bisa saja orang itu menjadi orang yang paling lo sayang, dan juga jangan berlebihan mencintai seseorang bisa saja orang itu adalah orang yang bakalan paling lo benci”  Ucap kafin menasehati Arka

“oke bakal gue ingat, makasih ya nasehatnya”

Setelah pulang sekolah Arka tidak langsung pulang ke rumah namun kali ini ia pergi nongkrong  bersama teman temannya. Dan malamnya sekitar jam satu malam lebih Arka pergi balapan liar sendiri tanpa mengajak teman temanny.

Satuu duaa tigaa    priiiitttttttt

Suara peluit terdengar nyaring, pertanda pertandingan di mulai. Arka langsung menancap gas motornya, motornya melaju lebih cepat di bandingkan lawannya. Namun di tengah perjalanan ia kehilangan kendali karena salah satu dari lawannya sengaja menendang motor yang Arka kendarai menyebabkan Arka dan motornya jatuh terguling guling di jalan.

 

***

 

Setiap hari setelah pulang sekolah Adarra tidak pernah lupa untuk melihat Arka di rumah sakit. Meskipun keadaan Arka masih koma, ia selalu mendoakan Arka agar bisa segera kembali seperti semula. kini Arka telah koma selama 2 bulan, sehingga Adarra sangat kesepian. Tidak ada lagi yang memarahinya, tidak ada lagi yang membentaknya. Namun tiba tiba disaat Adarra sedang memegang dan mengelus ngelus tangan arka, tangan arka bergerak perlahan mengeluarkan tangannya dari genggaman Adarra.

“ngapain kamu pegang pegang  tangan saya?” ucap Arka pelan dan masih terdengar sangat lemah.

“looh kakak udah sadar” ucap Adarra terkejut dan tentunya bahagia. Adarra berteriak memanggil dokter dengan senyuman bahagia.

“gue gak mau liat muka lo, sebaiknya lo pergi dari sini!” usir Arka

“yaudah kalo dengan perginya Dara bisa membuat kakak tenang, Dara pergi pamit pulang dulu” ucap Adarra dengan raut muka yang berubah menjadi sedih karena Arka mengusirnya, padahal ia sangat menanti nanti Arka untuk sadar. Tapi sudahlah sebaiknya Adarra pulang saja, Arka mungkin masih membencinya.

 

setelah menaiki angkutan umum dari rumah sakit akhirnya Adarra sampai di rumahnya. kemudian ia mandi karena hari sudah sore dan menyiapkan makanan untuk dibawanya ke rumah sakit nanti malam. rencananya papah akan pulang malam ini dan menunda segala pekerjaannya demi menjenguk Arka yang sudah sadar.

 

***

 

“akhirnya lo sadar juga Ar, gini gini gue juga rindu tau sama lo” ucap Kafin yang sedang berdiri di samping tempat Arka tidur.

” eh tapi yang buat lo kecelakaan udah di urus kok” ucap Yodi memmberitahukan tentang perihal orang yang membuat Arka celaka.

“siapa namanya?” tanya Arka

“itu loh yang selalu sirik sama lo, karena lo selalu jadi selalu jadi pemenang balapannya” jawab Kafin

“iya, dia udah dendam lama sama lo. Dan baru sekarang lo ikut balapan lagi, makanya baru sekarang dia bisa balas dendam”  sahut Ferdy

kemudian terdengar suara pintu terbuka dan munculah Adarra dengan Mahendra.

“alhamdulillah kamu sudah sadar Arka” ucap Mahendra langsung memeluk Arka yang sedang tiduran di tempat tidurnya.

“apasih pah, emangnya papah masih peduli sama Arka? “ucap Arka melepaskan pelukan Mahendra

“kok kakak ngomongnya gitusih, ya jelas lah papa sayang sama kakak” ucap Adarra

“sayang sama arka? haha bukannya papa cuma sayang sama lo aja si anak selingkuhan papa. yang udah ngehancurin rumah tangga orang ” ucap Arka tertawa miris

“apa benar itu pah? Dara anak dari perselingkuhan papa?” tanya Dara

“bukan gitu sayang, kamu juga sama kayak Arka anak papah” jawab Mahendra

“halah itu emang bener kok, nyokap lo yang udah ngehancurin keluarga gue dan buat mamah gue meninggal. ini semua gara gara lo! andai lo gak lahir ke dunia ini, pasti hidup gue masih bahagia kayak dulu. meningan lo pergi jangan hadir di kehidupan gue lagi, pokoknya gue gak mau liat lo lagi. cewek gak berguna!” Arka meluapkan semua kekesalannya kepada Adarra. Dan memaki makinya, menyalahkan semuanya seolah Adarra adalah biang dari masalah di hidupnya. Adarra hanya seorang cewek biasa yang mudah terluka hatinya, ia menangis sesegukan dan langsung meninggalkan ruangan ini.

“lo keterlaluan Ar, gak seharusnya lo nyalahin dia terus. ini semua udah takdir” ucap Kafin

“Arka, papa mau bicara sama kamu. kalian bisa keluar dulu?” ucap Mahendra kemudian kafin beserta teman temannya pergi keluar menyusul Adarra.

“papa prihatin sama kamu Arka, Adarra udah begitu baik. ngerawat kamu waktu kamu koma selama itu, dia rela waktu tidurnya terbuang cuma untuk bolak balik dari rumah sakit ke rumah, sampai sampai dia sakit, karena beberapa hari gak tidur dan pola makannya gak teratur cuma karena kepikiran terus sama kamu, yang entah sedikitpun kayaknya enggak peduli sama sekali ke dia. dan sekarang waktu yang ditunggu tunggu saat kamu sadar, kamu malah buat dia terluka, dengan perkataanmu itu”

“lantas apa yang membuatmu benci sama dia? coba kamu pikirkan lagi penyebab paling jelas kamu membenci dia, bukankah dia selalu baik sama kamu. Lalu apa alasan kamu membencinya?” tanya Mahendra ingin menyadarkan Arka.

perkataan Mahendra ada benarnya juga Arka mencoba mengingat ngingat kenapa sih dia bisa sampai begitu benci ke Adarra, padahal selama ini Adarra selalu berbuat baik kepada Arka.

Tiba tiba Arka merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya, sekelabat ingatan mengenai waktu kecelakaan mamahnya, ia dan mamah Adarra tercetak jelas di otaknya.

Di sana dalam suasana dinginnya malam, hujan yang deras, dan petir petir bergemuruh di langit. Arka, mamanya yang bernama luna. dan Rania, Berada dalam mobil berkecepatan tinggi di tegah tengah gelapnya malam dan jalanan yang licin. Luna adalah si penyetir mobil, dan Arka di sebelahnya. sedangkan Rania berada di belakang.

“mama, mama hati hati bawa mobilnya” Arka mencoba berbicara kepada mamanya, namun mamanya tetap melajukan mobil dengan cepat, dan tidak mendengarkan ucapan Arka.

“Aku sudah berkorban banyak untuk merebut Mahendra dari kamu, sampai akhirnya aku berhasil, tapi ternyata kalian berdua menikah diam diam di belakangku? hah?!!” ucap Luna kepada Rania dengan nada yang cukup tinggi.

“maafkan Aku Lun, Aku benar benar sangat mencintai Mahendra” mereka mulai berbicara tentang masa lalu. dan Arka hanya bisa menjadi pendengar.

“kamu pikir aku tidak mencintai Mahendra?? aku juga sama sepertimu bodoh!!” ucap Luna sambil terisak isak karena tangisnya.

“Luna awas!!!” di depan mobil yang di kendarai Luna ada truk yang melaju kencang. tapi, sebelum mobil yang di kendarai Luna menabrak truk. Luna langsung membuka pintu mobil sebelah Arka. dan mendorong Arka agar keluar dari mobil. supaya Arka tidak mengalami kecelakaan maut itu.

 

“arghhhhh, ternyata selama ini mama yang merebut papa dari mamanya Darra” Arka berteriak sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Arka kamu kenapa nak? papa panggil dokter dulu ya” ucap mahendra terlihat khawatir dan berlari keluar memanggil dokter.

 

***

 

Setelah Arka selesai di periksa oleh dokter, Adarra dan Mahendra masuk ke ruangan tempat dimana Arka dirawat.

“maafin gue ya, ternyata selama ini gue salah. dulu Papa adalah pacar tante Rania dan nyokap gue yang merebut papa dari tante Rania” ucap Arka tiba tiba setelah Adarra menghampirinya.

“iya kak gakpapa. kakak udah gak benci lagi kan sama Dara?” tanya Adarra dengan raut wajah kaget namun tetap bisa menenangkan diri untuk tabah menerima semua yang telah terjadi.

“enggak, gue akan menyayangi lo kayak adek gue sendiri, maaf selama ini gue egois selalu menyalahkan lo” Arka meminta maaf kepada Adarra dengan raut wajah yang terlihat bersalah.

“syukur deh, Dara jadi bahagia kakak sudah mau menerima kehadiraan Dara”

***

Akhirnya setelah sekian lama masalah ini bersarang di hati Arka. Arka bisa menerima kenyatannya dengan tulus. kini Arka dan Adarra hidup layaknya kakak beradik yang saling menyayangi, Mahendra pun lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah ketimbang bekerja tanpa henti. setiap hari, mahendra selalu berusaha menyempatkan diri untuk pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya.

“ayo Daraa cepetan, ini udah siang. Buruan mandinya, kakak udah siapin sarapan paling lezat loh” ucap Arka bersemangat menyuruh Adarra segera turun kebawah dan sarapan. Padahal ini masih terlalu pagi untuk mereka berangkat sekolah.

“iya kak, bentar lagi” teriak Adarra dari atas sana.

 

Karya : Dea Oktaviani

Kolom Komentar Facebook
To Top