Kahiji Story

Hopeless

Siang itu, pintu kelas terbuka lebar dan menimbulkan suara yang begitu keras. Aku yang semula sedang membersihkan kelas sendirian pun sontak terkejut saat seseorang menarik tanganku dengan kencang dan menyeretku dengan tidak berperasaan.

 

Aku hanya bisa pasrah, jika aku melawan tamatlah riwayatku. Aku mengikuti arah berjalannya menuju ke kantin sekolah yang sepi, karena ini memang sudah waktunya untuk pulang. Tetapi tugas piket kelas membuatku pulang sedikit terlambat.

 

Setelah sampai di kantin, dia mendudukkanku di salah satu bangku yang kosong dengan sangat kasar. Memang terasa sakit, tapi ini tidak semenyakitkan ketika ia berteriak membentak di depan wajahku. Aku tidak berani menatap wajahnya saat ini. Mungkin aku sudah membuat suatu kesalahan yang bahkan tidak terlalu besar, tetapi dapat membuat dirinya marah kepadaku.

 

“Shanin” ucapnya dengan nada yang tenang. Aku masih tidak berani menatap wajahnya, hingga aku terus menunduk sambil memejamkan mataku.

 

“Kalau ada orang bicara tolong tatap mukanya!”

 

Kali ini, aku memberanikan diri menatap wajahnya. Matanya menatap tepat dimataku dengan tajam, rahangnya mengeras, bahkan saat aku melihat ke bawah tangannya mengepal dengan kuat. Tuhan, salah apa yang sudah aku perbuat?

 

“Pulang dengan siapa kemarin?”

 

“S-s-sama Haidar” Aku merasa takut untuk menjawabnya, tapi jika tidak jujur maka aku akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi dari ini. Entah apa yang akan dia lakukan jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya.

 

“SUDAH AKU BILANG KAN, PULANG SEKOLAH BARENG SAMA AKU!”

 

Dia membentakku untuk yang ke sekian kalinya. Hal ini memang sudah biasa terjadi, tapi aku masih saja merasa sangat takut menghadapinya.

 

“Juno, bahkan kamu sendiri gak bisa di telepon kemarin. Apa aku harus terus nunggu kamu di sini sampai malam? Kamu sudah pulang terlebih dahulu dan mungkin kamu gak bakalan ingat sama aku!”

 

Plakk..

 

Tangannya mengayun dengan sangat keras dan mendarat di pipi sebelah kananku. Sungguh ini sangat menyakitkan, aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak menetes.

 

Suasana tiba-tiba hening, lalu aku merasakan ada sesuatu yang memelukku dan mengusap kepalaku dengan lembut. Itu benar-benar membuat hatiku luluh seketika, Juno memelukku dan meminta maaf.

 

“Astaga maaf, aku sudah kelewatan. Aku benar-benar minta maaf, seharusnya aku mendengarkanmu dulu”

 

Dia terus mengucapkan kata maaf ditelingaku. Aku semakin mengeratkan pelukannya dan menangis di bahunya. Memang, kata maaf selalu diucapkannya di saat keadaan seperti ini, tapi kemudian dia pasti akan mengulanginya lagi.

 

Akhirnya dia memilih mengantarkanku pulang, tapi sebelumnya dia mengambilkan tasku yang masih berada di kelas. Dia bahkan memberikan jaketnya kepadaku saat aku akan menaiki sepeda motornya. Sungguh perlakuan yang sangat manis dan mampu membuatku terkesima. Setidaknya, hari ini tuhan mengizinkanku untuk berbahagia walaupun sesaat. Karena aku tidak tahu, apa yang akan dia lakukan kepadaku esok hari.

 

………

 

Esok hari, seperti biasa aku selalu datang pagi. Kelas masih sangat sepi, hanya ada beberapa murid yang sudah datang dan mereka memilih membaca buku sambil menunggu bel berbunyi.

 

Semalam Juno meneleponku dan menanyakan bagaimana keadaanku. Ini tidak seperti biasanya, kemarin malam sikapnya sangat perhatian kepadaku. Bagaimana aku tidak luluh jika dia selalu mempunyai cara untuk memikat hatiku kembali.

 

Aku merasa senang sampai aku tidak menyadari bahwa sekarang aku tengah tersenyum sendiri. Sampai tiba-tiba dia datang kepadaku dengan senyumannya yang membuat dirinya terlihat lebih tampan.

 

“Katanya kamu ada ulangan sekarang, kenapa bukannya belajar?” tanyaku.

 

Kelasku dan Juno memang berbeda, tetapi kelas kami bersebelahan. Dia langsung duduk di kursi sampingku yang masih kosong, kemudian dia bersandar di bahuku.

 

“Aku sudah pintar, jadi jangan khawatir” dia terkekeh pelan lalu memejamkan matanya.

 

Dia terus menyamankan posisinya dibahuku sampai ada seorang perempuan yang mendekati kami dan memanggilnya.

 

“Juno, bisa tolong antarkan aku ke ruang musik? ada barang yang tertinggal di sana”

 

Juno mengangkat kepalanya dan menatap perempuan itu dengan tatapan bertanya.

 

“Kenapa harus aku?” tanya Juno heran.

 

“Karena kamu yang memegang kunci ruangan musiknya.”

 

“Baiklah, ayo sebentar lagi pasti masuk.”

 

Juno seketika pergi meninggalkanku tanpa mengucap kan sepatah kata. Harus sekali Juno yang mengantar? Bukannya Juno bisa memberikan kuncinya saja dan membiarkan perempuan itu pergi sendiri?

 

Baiklah, aku tidak mau ambil pusing. Biarkanlah Juno melakukan apa yang dia mau.

 

Tak lama, samar -samar aku mendengar percakapan murid perempuan dikelasku yang membicarakan Juno. Menurut mereka, Juno adalah definisi pria dengan paket yang lengkap. Tampan, tinggi, pandai, baik hati, dan suka menolong.

 

Aku ingin menyangkal pikiran beberapa orang yang seperti itu, karena Juno yang aku kenal adalah pria yang posesif, egois, pemarah, dan kasar. Memang terkadang perilakunya berubah menjadi sangat manis, tetapi itu hanya sesaat saja. Jika kalian menjadi pacarnya, pasti akan merasakan apa yang aku alami.

 

……

 

Saat pulang sekolah, aku pergi menuju kelas Juno. Aku tidak mau dia memarahiku lagi hanya karena aku tidak pulang bersama dengannya. Di depan pintu kelasnya aku berhadapan dengan Haidar, pria yang mengantarku pulang beberapa hari yang lalu.

 

Dia hanya tersenyum sebentar kemudian langsung melewatiku, tetapi aku sempat melihat ada bekas luka disudut bibirnya. Begitu aku berbalik akan mengejarnya, ada tangan yang menahan lenganku dan menarikku ke dalam pelukannya. Dari aroma tubuhnya saja, aku sudah tahu bahwa dia adalah Juno.

 

“Aturannya kalau sudah ada di depan kelasku gak boleh balik lagi” ujarnya sambil menggerakkan pelukannya ke kiri dan ke kanan.

 

Kemudian aku berpikir, apa mungkin jika Juno yang membuat sudut bibir Haidar terluka?

 

“Juno, kamu ngapain sama Haidar?” tanyaku pelan.

 

Dia langsung melepaskan pelukannya dan menatapku tidak suka. Aku mencoba untuk tetap tenang dan tidak gugup.

 

“Cuman masalah kecil” jawabnya singkat.

 

“Gak seharusnya pakai cara kekerasan Juno.” kataku lembut.

 

“Gausah ngatur ngatur deh, mendingan sekarang kamu turutin permintaan aku.”

 

Aku mengalah dan memilih menuruti permintaannya. Semoga saja dia tidak menyuruhku menempelkan kertas yang berisi tulisan tidak berfaedah dipunggung murid-murid lain. Aku benar-benar tidak ingin melakukannya, bayangkan saja jika kalian yang berada di posisi murid tersebut, betapa malunya kita.

 

“Aku mau kamu dapatin buku biologi milik Haidar lalu berikan padaku.” ujar Juno.

 

“Kenapa tidak kamu saja? Kalian kan satu kelas.”

 

“Kamu kan tahu aku baru saja bertengkar dengannya.”

 

“Memangnya buat apa, jangan melakukan hal yang aneh Juno” Aku memperingatkannya untuk tidak mencari masalah pada orang lain. Tapi sepertinya dia tidak akan mendengarkanku.

 

“Sudahlah, turuti saja permintaan kekasihmu ini.”

 

Aku pun mengangguk mengiyakan, entah apa yang sudah ia rencanakan untuk musuhnya itu.

 

……

 

Pagi hari, aku datang ke kelas Juno untuk menemui Haidar. Tentu saja karena permintaan Juno kemarin. Semalam aku sudah mengirim Haidar pesan untuk meminjam buku tugas biologinya dan ia menyuruhku mengambil di kelasnya.

 

Saat memasuki kelasnya, Juno belum datang. Aku berjalan menuju bangku Haidar dan meminta bukunya.

 

“Ini, pinjam saja sampai kamu selesai menyalinnya.” ujarnya sambil tersenyum. Ayolah, aku benar-benar tidak tega jika Juno akan menjahili Haidar setelah ini.

 

“Terima kasih, jika sudah aku pasti akan mengembalikannya.”

 

Aku berjalan keluar dan berhadapan dengan Juno yang akan memasuki kelasnya. Dia menyeretku sedikit lebih jauh dari kelasnya, kemudian tangannya meminta buku milik Haidar.

 

“Berikan bukunya” pinta Juno.

 

“Sebenarnya untuk apa? Jangan-jangan kamu belum mengerjakan tugas dan gengsi untuk pinjam pada Haidar. Makanya kamu menyuruhku mengambil buku ini kan?” ucapku yang hanya sekedar menebak.

 

“Aku bukan orang yang seperti itu, sudahlah ini urusan lelaki”

 

“Tapi aku ingin tahu Juno”

 

“Kembalilah ke kelas sayang.” ucap Juno sambil mengusak kepalaku.

 

Siapa yang tidak luluh jika diperlakukan begini? Akhirnya aku memutuskan kembali ke kelas dan meninggalkan Juno dengan rencana rahasianya itu.

 

Saat jam istirahat, aku mendengar keramaian di sekitar kelasku. Atau mungkin suara itu berasal dari kelas sebelah, aku memutuskan untuk keluar dan melihatnya.

 

“Haidar lihat, bukannya dia yang meminjam bukumu tadi pagi?”

 

Aku terkejut saat seorang laki-laki yang mungkin teman Haidar itu menunjuk ku.

 

“Apa yang dia lakukan?”

 

“Bukannya berterima kasih dan menjaganya”

 

“Seharusnya orang seperti ini tidak usah dipinjami”

 

Aku bingung dengan yang mereka katakan, ketika aku memutuskan lebih maju aku sangat terkejut. Buku Haidar yang kupinjam tadi pagi ada di dalam tong sampah dan tampilannya pun sudah lusuh.

 

Aku melihat Haidar yang kali ini ada di hadapanku, aku berusaha menyangkalnya tapi dia sama sekali tidak merespon. Dia hanya diam terpaku setelah itu meninggalkanku dengan hujatan-hujatan murid lainnya.

 

Aku benar-benar tidak tahan, jika aku mengatakan bahwa bukan aku yang melakukannya pasti tidak akan ada yang percaya. Aku sudah muak dengan makian mereka, tidakkah seorang pun yang membelaku? Bahkan aku melihat Juno yang berdiri di depan kelasnya dengan tersenyum tanpa berniat menolongku dari orang-orang jahat ini.

 

……

 

“Juno kenapa kamu melakukan ini padaku? kenapa tidak bilang saja kalau kamu yang melakukannya? Aku tahu kamu yang sudah membuang buku itu kan? Aku tahu Juno!” ujarku dengan emosi yang memuncak.

 

“Memang kenapa? Ayolah itu hanya masalah kecil” singkat Juno.

 

“Kecil? Aku bahkan tidak bisa tenang berada di sini? Setiap detik ada saja maki an maki an yang tertuju untukku. Apa itu masalah kecil?”

 

Dia hanya diam, dia terlihat tidak tertarik membahas tentang ini.

 

“JUNO JAWAB! aku ingin kamu bertanggung jawab, bilang pada semuanya bahwa bukan aku yang melakukannya!” Aku menggoyangkan lengan seragamnya tetapi dia tetap diam.

 

“Memangnya untuk apa kamu menyuruhku mengambil buku milik Haidar? Beri tahu aku sekarang Juno!” lanjutku saat dia masih tetap termenung.

 

“Aku hanya ingin balas dendam. Tadi ada pemeriksaan buku catatan, lalu dia tidak punya dan berakhir diberi tugas tambahan yang sangat banyak.”

 

Dia terlihat senang karena perlakuannya berhasil membuat Haidar dihukum. Lalu? hanya gara-gara itu aku jadi dibenci dengan yang lainnya?

 

Aku menghela napasku, “Kalau gitu ayo kita putus” ucapku pelan. Aku tidak tahan dengan semua ini.

 

“Hah? enggak, gak bisa. Gak usah seenaknya kamu memutuskan hubungan begitu saja!”

 

“Aku capek Juno, kamu egois! Aku mau berhenti.”

 

“Hubungan ini sudah berjalan satu tahun, lalu kamu ingin mengakhirinya begitu saja? Kenapa? Biasanya saja masalah seperti ini kamu anggap angin lalu.” ucap Juno dengan sedikit emosi.

 

“Tapi kali ini tidak lagi, menurutku ini sudah keterlaluan!”

 

“Baiklah, kamu pasti bakal menyesal. Ingat, jangan pernah kembali lagi.” Dia berjalan meninggalkanku, sejujurnya ada perasaan tidak rela saat aku mengucapkannya. Tetapi aku rasa itu keputusan tepat, aku memang harus mengakhirinya.

 

………

 

Sudah seminggu sejak aku dan Juno mengakhiri hubungan kami, dia terlihat lebih pendiam dari biasanya. Setiap hari selalu sendiri, seperti diriku. Mulai hari itu, tidak ada yang mau berteman denganku. Aku hanya bisa menerimanya, suatu saat nanti kebahagiaan pasti akan datang kepadaku.

 

Saat ini adalah jam pelajaran, tapi aku memutuskan untuk keluar ijin ke UKS, padahal aku pergi berjalan jalan untuk menyegarkan pikiranku. Aku berjalan menuju perpustakaan, di sana sangat sepi. Ketika aku membuka pintunya, aku berhadapan dengan seseorang yang pernah mengukir sejarah romantis di hidupku.

 

Tiba-tiba dia berjongkok dan yang membuatku terkejut adalah, dia mengikat tali sepatuku yang lepas. Ayolah, kenapa sikap manis itu datang lagi?

 

“Itu berbahaya, lain kali pastikan terikat sempurna.” aku tersenyum membalasnya.

 

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku.

 

“Membaca buku” jawabnya.

 

Sejak kapan seorang Juno membaca buku? Biasanya yang ia lakukan bermain game dan merokok. Tapi aku senang jika dia mau berubah.

 

Kemudian dia menarikku ke dalam perpustakaan yang sepi tanpa penjaga. Dia mengajakku duduk di bangku yang kosong.

 

“Maaf”

 

Ketika aku akan menjawabnya, tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka dan memperlihatkan seorang lelaki yang tengah membawa tumpukan buku.

 

Dia menatap kami berdua dengan tatapan sedikit tidak suka. Aku bisa mendengar dia mendecih pelan sambil melewatiku dan Juno.

 

Siapa lagi kalau bukan Haidar. Entah dia masih marah padaku atau tidak, aku tidak tau. Tapi aku benar-benar  ingin meminta maaf dan segera menyelesaikan semua masalah ini. Aku benar-benar ingin berdamai dengan siapa pun.

 

Aku memutuskan untuk menghampiri Haidar, tapi sebelum itu aku pamit dahulu pada Juno. Dia hanya menganggukkan kepalanya mengerti, walaupun sedikit tidak rela membiarkan ku menemui Haidar.

 

Aku menepuk bahunya dari belakang saat dia sedang menata buku dengan rapi kedalam rak. Dia menolehkan kepalanya ke belakang setelah itu tersenyum kecil.

 

“Haidar maaf ya, aku hanya ingin bicara bahwa itu bukan aku yang melakukannya?.” ucapku takut.

 

“Aku tau.” ucap Haidar cepat.

 

“Aku sudah memaafkanmu dari lama, waktu itu aku hanya sedikit kecewa saja. Tapi ternyata bukan dirimu yang melakukannya.” lanjutnya.

 

“Itu ulah Juno, aku ingin meminta maaf untuk mewakilinya.”

 

“Kenapa minta maaf terus? Santai saja, aku tidak akan marah.”

 

Tanpa sadar, aku memeluk Haidar dan memekik senang setelah dengar perkataannya. Tak lama dia juga membalas pelukanku. Dulu kami memang dekat, tapi setelah aku berpacaran dengan Juno, hubungan persahabatan kami jadi renggang.

 

“Sudah lama tidak seperti ini.” ucap Haidar yang mengeratkan pelukannya.

 

Aku hanya menganggukkan kepalaku, ini benar-benar terasa nyaman. Hingga aku lupa, bahwa aku belum menjawab Juno yang tadi meminta maaf padaku.

 

………

 

Aku berlari mencari di mana keberadaan Juno. Setelah aku dan Haidar memutuskan untuk keluar perpustakaan, aku teringat dengan Juno dan berpamitan pada Haidar untuk pergi menemui Juno.

 

Sampai aku menemukan Juno yang tengah duduk sendirian di taman sekolah menikmati angin segar.

 

“Juno” aku memanggilnya dan membuat Juno sedikit terlonjak kaget.

 

Aku duduk di sampingnya dan kembali bertanya, “Tadi mau bicara apa?”

 

“Aah…tadi… Aku hanya ingin minta maaf”

 

Aku mendongak menatap wajahnya, sungguh dia mengucapkan kata maaf?

 

“Lupakan saja Juno” ucapku sedikit dingin.

 

“Aku mohon, aku hanya tidak ingin kita seperti ini. Saling kenal, tetapi tidak saling sapa. Itu benar-benar menyakitkan” ucap Juno lalu memegang tanganku dan mengusapnya lembut.

 

“Aku ingin kita tetap menjadi teman, aku ingin kita bisa lebih dekat lagi seperti dulu. Aku menyesal dengan semua perbuatanku kemarin. Kamu benar, aku memang sangat egois.” lanjut Juno.

 

Aku merasa prihatin, seketika diriku luluh. Aku membalas genggaman tangannya dan mengelus punggung tangannya.

 

“Juno, kita masih muda, masih belum cukup umur untuk menjalani yang namanya pacaran. Jadi wajar saja jika kita sering bertengkar. Karena pikiran kita masih belum dewasa. Aku senang jika kamu mengajakku berteman, ayo dekat lagi denganku seperti layaknya seorang teman. Ah tidak, mungkin seorang sahabat” ucapku lembut.

 

Ucapanku membuat Juno tersenyum bahagia, dia mengelus kepalaku dan kemudian kami tertawa bersama. Untung saja tidak ada guru yang berkeliling saat ini.

 

Benar kan, kebahagiaan pasti akan datang menemuiku. Ternyata, Junolah kebahagiaanku. Walaupun sekarang kami bukanlah pasangan kekasih, tapi sekarang kami benar-benar bersyukur bisa menjadi dekat lagi.

 

Kami memutuskan untuk fokus pada kegiatan sekolah dulu, jika dewasa nanti barulah waktunya. Sepertinya kami akan lebih nyaman seperti ini, menjadi seorang sahabat. Iya, sekarang Juno adalah sahabat yang paling kusayangi.

 

Karya : Dina

Kolom Komentar Facebook
To Top