Kahiji Story

Hijab Is My Crown

Namaku Adriannisa Shalsa Zahra, aku bersekolah di SMA Mutiara Hati, dan sekarang aku duduk di kelas 2 SMA. Aku lahir di tengah-tengah keluarga sederhana yang memproitaskan agama, tapi sampai saat ini hatiku belum tergerak untuk segera melaksanakan kewajibanku sebagai perempuan muslimah yakni menutup aurat dengan sempurna dan senantiasa istiqomah.

Aku mempunyai dua orang sahabat yang selalu menemani hari-hariku di sekolah, mereka bernama Shafa Indriyani dan Widya Dwinanda. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka, tak terlintas dibenakku sejak saat kita kenal entah mengapa kita mempunyai kesamaan suka menulis, entah itu quote, puisi, cerpen, dan tulisan sastra lainnya. Setiap 2 minggu sekali kita selalu mengagendakan kegiatan itu sambil bertukar pikiran, pokoknya seru deh.

Hari Senin akhirnya tiba, hari yang menurut sebagian orang adalah hari yang membosankan bahkan malas biasanya, kadangkala menurutku begitu karna tugas-tugas tambah menumpuk mulai hari itu. Tak seperti biasanya, Senin kali ini aku merasa semangat meskipun cuaca seolah tak bersahabat tapi rasa semangatku melebihi itu.

Segera aku berkemas, mengenakan pakaian putih abu disertai jas almamater yang seolah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Aku pun berangkat sekolah dengan diantar oleh ayahku, tak lupa juga aku berpamitan kepada ibuku, “Bu.. Aku berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum” (sambil mengecup tangannya) ucapku. “Iya, hati-hati di jalan” ucap Ibu.

Setibanya aku di sekolah, tepatnya di depan gerbang aku berpapasan dengan seseorang yang tak asing bagiku, dia adalah ketua tim rohis. Aku pun tertunduk dan sedikit melirik ke arahnya lalu melanjutkan jalan menuju ke ruang kelas tanpa ada sepatah kata yang terucap. Sesampainya di kelas aku sempat teringat kejadian tadi, tanpa ku sadari lamunanku tentang seseorang itu terngiang. Ah, sudahlah! tak ingin lagi ku terjebak dalam perasaan yang semu. “Hei… Ayo cepet ke lapangan, upacara udah mau mulai” (sambil menepuk pundakku) ucap kedua sahabatku. Sentak aku terkejut dan langsung membuyarkan lamunanku, ” Astagfirullah.. Ihh kalian bikit kaget orang aja” ucapku agak sedikit kesal. “Hehehe, lagian kamu ngelamunin apa sih sampai-sampai kamu senyum-senyum sendiri” ucap Widya. Sambung Shafa “Iyaa nih, jangan-jangan…….” belum sempat Shafa melanjutkan pembicaraannya dan pada saat kits bertiga jalan menuju lapangan ada yang menubruknya dari belakang. “Dia kaann….?” ucapku agak keras sampai-sampai dia menengok ke arahku, saat itu aku tertunduk diam terpaku melihatnya. “Siapa dia nis? ucap Shafa, ” Ituloh, dia itu Akbar ketua grup Rohis di sekolah kita” sambung Widya. “Ohh, baru tau aku namanya” ucapku.. “Kemana aja sih kamu, dia tuh banyak yang ngagumin loh wajar juga kalo banyak yang suka” ucap Widya. “Oh ya? tapi dia terlihat cuek, tak pernah aku lihat dia jalan bareng sama cewe” ucapku. “Iya lah ga pernah, dia itu taat sama agama” sambung Widya. “Kayaknya kamu tau semua tentang Akbar ya Wid?” ucap Shafa. “Asal kalian tau, aku juga termasuk orang yang diam-diam mengaguminya” ucap Widya. “Heehh ngomingin apa sih kalian, cepet kita ke lapangan upacara udah mau dimulai tuh” ucapku agak iri ketika widya mengatakan itu. “Yaudah ayoo” ucap Widya dan Shafa bersamaan.

Singkat cerita, setelah upacara selesai guru menginfokan pengumuman bahwa sekolah akan mengadakan lomba fashion busana muslim terbaik dan lomba menyayi lagu islami dalam rangka memperingati hari maulid nabi yang akan dilaksanakan pekan depan. Kami semua pun bergegas ke kelas untuk mengikuti pelajaran seperti biasa. Bel istirahat akhirnya berbunyi, setiap ketua kelas dipanggil ke aula untuk diberi pengarahan tentang sistem mengenai perlombadehetelah selesai, ketua kelas mengumumkannya di setiap kelas bahwa harus ada perwakilan untuk berpartisipasi dalam setiap lomba, salah satu temanku mengusulkan aku untuk mengikuti lomba menyanyi lagu islami. “Ehh nis kamu aja yang ikut lomba nyanyi itu, suara kamu kan bagus” ucap Shafa. “Engga ah, aku kurang percaya diri lagian akhir-akhir ini aku agak ga enak tenggorokan” ucapku. “Kan masih ada waktu, paling sebentar lagi juga sembuh” ucap Widya. “Iyaa nis kamu aja ya, soalnya ga ada yang bisa dipercaya lagi selain kamu, kalo masalah musiknya nanti aku bantu, mau pake instrumen atau alat musik” ucap ketua kelas (Randy). “Boleh deh, pake instrumen aja biar ga ribet” uacpku. “Oke” ucap Randy. Bel masuk tiba, kami semua pun melanjutkan pembelajaran seperti biasa.

Waktu pulang tiba, pada saat itu aku jalan sendirian karna dua sahabatku yang lain ada kegiatan belajar kelompok. Tepatnya di taman tiba-tiba ada yang menyapa, “Hai nis, kenapa pulang sendiri? teman-temanmu mana? ucap seseorang yang datang dari belakang. “Ehh, hai” (sambil menoleh penasaran) ucapku sambil mengucap pula  dalam hati “(apa benar dia menyapaku? Dia, Akbar)”. “Teman-temanku ada kerja kelompok” sambungku. “Oh begitu, salam kenal ya 🙂 Aku sudah sejak lama melihatmu tapi baru sekarang aku bisa ngobrol denganmu, kamu tau gak aku siapa?” ucap Akbar. “Iya, salam kenal kembali. Kamu ketua grup rohis kan? tapi aku belum tau namamu siapa” ucapku agak sedikit gugup dan pura-pura tak tahu. Entah kenapa setiap berhadapan dengannya, aku merasa gugup padahal aku sudah bersikap biasa saja. Tapi hatiku? denyutnya makin lama berbicara dengannya makin kencang, ihh kenapa sih aku ini, makin ga jelas aja (ucapku dalam hati). “Perkenalkan namaku Akbar, iya benar aku ketua grup Rohis, kamu ga ada niatan gitu buat gabung ke ekskull Rohis sekolah kita?” ucap Akbar. “Ohh Akbar, pingin sih tapi aku kan belum berhijab, aku masih kurang percaya diri” ucapku. “Niatkan dulu aja, hijabin dulu hatinya. Kamu ga kasian gitu sama ayah kamu? sama dosa-dosa apa kamu gak takut?” ucap Akbar. “Niat ini udah dari dulu, tapi aku  masih butuh waktu untuk memperdalam ilmu yang belum aku ketahui sebelumnya. Aku juga sempat berpikir seperti itu, masa yang dari kecil aku di didik ilmu agama oleh kedua orang tuaku, tapi masalah menutup aurat aku masih buka tutup jilbab” jawabku. “Semoga Allah selalu mempermudah proses hijrah dan urusanmu” sambung Akbar. “Aamiin terimakasih, kalau begitu aku pulang duluan ya” ucapku. “Sama-sama, iya hati-hati” ucap Akbar. “Iya” ucapku yang menoleh ke arahnya, saat itu aku jalan agak cepat dan tanpa disadari aku menabrak sebuah tiang. “Aw, siapa yang taro tiang disini sih” ucapku sedikit kesal. “Kan aku bilang hati-hati, jangan nyalahin tiang! orang dari dulu-dulu juga udah ditaro disitu wkwk, kamu gapapa kan nis?” ucap Akbar sambil sedikit tertawa. “Ehh iyaa gapapa kok” ucapku sedikit malu. “Yaudah, lain kali kalo jalan liat ke depan ya hehe” ucap Akbar bercanda. “Oke” ucapku.

Sesampainya di rumah, aku melakukan kegiatan sepulang sekolahku (mandi, ganti pakaian, sholat, makan), sesudah itu aku bercerita kepada Ibuku bahwa aku akan mengikuti lomba menyanyi lagu islami, Ibuku sangat mendukungku. “Bu, aku bingung harus pake baju apa saat perlombaan nanti, menurut Ibu yang cocok di aku yang mana?” tanyaku. “Terserah kamu aja, ga usah yang ribet-ribet biar leluasa saat kamu nyanyi” jawab Ibu. “Ihh Ibu, suka kebiasaan setiap aku nanya jawabnya terserah aku tuh suka bingung kalau gitu” ungkapku. “Atau enggak mau baju muslim Ibu kamu pake?” tanya Ibu. “Hemm gimana yaa, aku pinjem jilbabnya aja deh yang bulan lalu Ibu pake ke pengajian aja ya” jawabku. “Boleh, Nis coba deh kamu pake jilbab, itu di lemari kamu banyak jilbab yang jarang kamu pake” ucap Ibu. “Jilbab? Ohiyaa, nanti aku coba pake” ucapku. “Sekarang aja Nis, Ibu pengen liat cantiknya putri Ibu” ungkap Ibu. “Iya deh, bentar ya bu” ucapku. Akhirnya aku menuruti keinginan Ibu, segera aku bergegas menuju kamarku mencari jilbab-jilbab yang jarang sekali ku pakai paling pada saat ada acara keagamaan saja aku pakai. “Nah.. Ini dia, baru sadar aku punya jilbab banyak gini sebagian berdebu pula” (sambil meniup debu-debu yang menempel di salah satu jilbab) kataku. Disekian banyak jilbabku, aku mencoba memakainya satu per satu yang tak cocok aku buka lagi, begitu saja seterusnya sampai aku menemukan satu jilbab yang cocok dan pas.

Aku berdiri didepan cermin sambil menatap wajah yang tampak kelelahan, sedikit senyum ku ukirkan. “Bismillahirrahmanirrahim.. Ya Allah permudahkanlah proses hijrahku ini, isqomahkanlah selalu diri ini dalam menjalankan perintahmu salah satunya hari ini dengan izinMu aku ingin menutup auratku dengam memakai jilbab sesuai perintahMu. Karna aku sayang pada Ayahku, aku ga mau kalau Ayah menanggung dosaku yang banyak ini dengan tidak menutup auratku” ungkapku dalam hati. Perlahan-lahan aku memakai jilbab merah maroon, menyisipkan peniti, membiarkan jilbabnya terurai panjang. Ku perlihatkan hasilnya pada Ibuku dengan malu-malu “Ibu…” ucapku polos. “Subhanallah, nak kamu cantik banget” ucap Ibu kegirangan. “Ihh Ibu bisa aja, cocok ga aku pake jilbab ini?” tanyaku. “Cocok banget sayang, kamu terlihat anggun”  jawab Ibu. “Bu aku udah ada niatan untuk seterusnya pake jilbab, In Shaa Allah senin nanti aku akan pake jilbab ke sekolah, tapi bajuku? apa harus beli lagi bu, gapapa kan?” ucapku sambil bertanya. “Alhamdulillah, Ibu sangat mendukung niatan kamu untuk menutup aurat, masalah baju hari libur nanti kita beli ke pasar sama-sama ya” ucap Ibu. “Iyaa Bu, makasih ya Aku sayang Ibu” ungkapku. “Sama-sama nak, Ibu juga sayang sama kamu” ungkap Ibu.

Keesokan harinya, seperti biasa paginya aku mengecek kembali apa-apa saja yang sudah aku persiapkan malam tadi. Tepat pukul 05:50 WIB aku berangkat ke sekolah, seperti biasa dengan diantar ayahku. Sesampainya di sekolah aku sudah disuguhkan dengan berbagai tugas yang tiap harinya makin menumpuk, ya meskipum begitu rasa semangatku masih ada walau tak banyak. Setelah waktu istirahat tiba, aku mengajak dua sahabatku untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan menulis kata-kata bijak di secarik kertas untuk masing-masing dari kita, setelah itu setiap dari kami menyisipkannya di dalam sebuah amplop kecil kemudian menukarkannya ke setiap dari kita tanpa tahu apa isi dari secarik kertas itu. Setelah kami mendapatkan masing-masing dari isi kertas itu, setiap dari kami memberikan penilaian terhadap karya tulis kami agar salah satu dari kami mengetahui dan sudah terbiasa jika suatu saat ini karya tulisan ada yang mengktitiknya. Selepas kegiatan selesai, kemudian… “Assalamu’alaikum” ucap seseorang sambil menghampiriku, setelah ku tengok orang itu Akbar dan dibelakangnya ada yang menyusul dia Siska. Oh ya, aku ingin berbicara sedikit mengenai siapa itu Siska. Yang aku denger dari teman sekelas dia itu murid yang cukup pintar dikelasnya, dia juga salah satu dari sekian banyak (mungkin) yang suka kepada Akbar, dia ga suka kalau ada seorangpun yang dekat-dekat dengan Akbar, dia juga cukup jutek menurutku.

Selepas itu, Siska menarik tangan Akbar sambil berkata “Kamu ngapain kesini sih bar, mending kita ke kantin aja yuk.” Akbar melepas tangannya dari Siska sambil berkata “Kamu itu apa-apaan sih Sis, aku itu ada urusan sama Nissa jangan ngintil-ngintilin terus, kalau mau ke kantin ya sana aja sendiri.” “Yaudah tapi nanti kamu nyusul ya” ucap Siska. “Iya, kalau sempet” ucap Akbar. Akbar mengalihkan pandangannya kepadaku sambil berkata “Nis, gimana soal tawaranku untul kamu gabung grup Rohis sekolah kita? Sekalian kamu latihan vocal buat perlombaan hari senin nanti” Hmm.. gimana ya? Aku sih mau banget tapi lihat aku, pakaianku belum bisa menyesuaikan dengan kalian yang sudah bisa senantiasa Istiqomah” ucapku agak rendah. “Lama-kelamaan juga pasti akan terbiasa Nis, banyak juga anggota Rohis yang dulunya seperti kamu belum menutup aurat, tapi akhirnya dia mau ikut bergabung dan juga dapat menyempurnakan akhlaknya menjadi pribadi yang lebih baik. Selain kita belajar vocal untuk menyanyikan lagu-lagu islami, disana juga kami diajarkan cara mengaji yang benar sesuai dengan syariat Islam, belajar tentang hukum tajwid, cara melagamkan bacaan, bahkan sebagian dari kami juga diajarkan cara menghafal Al-Qur’an dengan metode ‘One Day One Ayat’ pokoknya ga bakal nyesel kalau kamu ikut gabung, malah In Shaa Allah akan bermanfaat” ucap Akbar panjang lebar. “Iya aku akan pertimbangkan dan mulai mempersiapkan diri dan hati dulu, makasih atas penjelasannya dan sekarang aku paham dan termotivasi karena ucapan kamu” ucapku. “Sama-sama, aku harap nanti ada keputusan baik untukku, yaudah aku ke kelas dulu ya Assalamu’alaikum” ucap Akbar. “Wa’alaikumsalam” ucapku.

Hari demi hari ku jalani seperti biasanya. Singkat cerita hari ini adalah hari Ahad dan kegiatan pagiku sebagai perempuan yaitu bersih-bersih rumah, bantu Ibu di dapur, dan banyak lagi. Disela-sela waktu aku membantu Ibu, Ibu mengingatkanku “Nis, kamu ga lupa kan tentang keinginan kamu berjilbab itu, nah mending hari ini aja setelah selesai semua kita pergi ke pasar untuk beli baju sekolah kamu yuk” ucap Ibu. “Oh iya, untung Ibu ngingetin, saking sibuknya sama tugas sekolah yang numpuk banget sampai-sampai lupa tentang keinginan aku itu, yaudah tinggal nunggu sayurnya mateng kan bu?” ucapku sambil memubuhkan garam ke masakan. “Iya dong, Ibu ingat kan itu keputusan yang baik jadi Ibu selalu mengingatnya. Nah, ini sudah matang siap untuk disantap” ucap Ibu. “Wahh, kelihatannya enak nih bu hihi perut udah mulai keroncongan nih” ucapku. “Yaudah kita makan sekarang, panggil Ayah sama adikmu kita makan sama-sama” ucap Ibu. “Iya bu, Yah.. Dek.. sini kita makan bareng kata Ibu” ucapku. “Iya sebentar Nis, tanggung ini tinggal di lap motornya” ucap Ayah. “Makan sama apa kak?” tanya adikku (Ilham). “Nih Ibu udah masakin sayur sop, tempe goreng sama daging ayam buat kita makan hari ini” jawab Ibu. “Wah, mau-mau” ucap Ilham. “Sini, Ayah udah selesai belum?” tanyaku. “Udah Nis” jawab Ayah. Akhirnya kita semua maka bareng dengan masakan yang menurutku enak dan sedap semua kalau Ibu yang masakin.

Selepas makan, aku dan Ibu pergi ke pasar dengan berjalan kaki karena tempatnya yang tak begitu jauh dari rumahku. Di perjalanan aku menceritakan tentang Akbar kepada Ibu dan berkata aku kagum pada kepribadiannya kepada Ibu, disitu Ibu menasehati ” Kalau kamu mengagumi seseorang jangan terlalu dalam mengekspresikan rasa kagum tersebut, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik jadi sekadarnya saja agar tidak sakit nantinya” ucap Ibu. “Wah aku tak menyangka Ibu juga pandai merangkai kata menjadi satu kesatuan yang indah, aku ga nyangka loh Bu makasih juga nasehatnya. Bisa aku jadikan quote nih aku akan tulis dibawahnya nama Ibu, hehehe” ucapku. “Iya dong, gini-gini juga Ibu pernah mengikuti lomba cipta puisi waktu dulu Ibu masih SMA, juara 3 lagi” ungkap Ibu. “Oh ya? aku bisa belajar banyak nih dari Ibu, kapan-kapan ajari aku ya bu” ucapku. “Iya sayang, apa sih yang enggak buat anak Ibu yang manis ini, selagi itu bermanfaat dan buat kamu makin termotivasi Ibu akan bantu kamu nak” ucap Ibu. “Ah, Ibu bisa aja” ucapku sambil tersenyum manis pada Ibu. Percakapan di sepanjang perjalanan membuat langkah kaki tak terasa letih dan tak terasa aku dan Ibuku sudah sampai di salah satu toko yang menjual baju sekolah lengkap. “Bu, ada baju seragam sekolah yang lengannya panjang buat anak SMA? sekalian juga sama rok nya bu” tanya Ibuku pada penjual toko. “Oh ada-ada, nih tinggal dipilih aja yang pas ukurannya, rok nya yang rempel berapa bu?” ucap penjual toko. “Nih Nis kamu coba dulu yang ini cukup ga, rok nya yang rempel banyak aja Bu” ucap Ibuku. “Iya bu” ucapku (sambil coba pakai). “Gimana cukup ga?” tanya Ibu. “Cukup bu, aku pilih yang ini aja” ucapku sambil menunjukkannya ke Ibu. “Rok nya?” tanya Ibu. “Rok yang ini agak longgar bu” jawabku. “Coba yang ini neng” ucap penjual toko. “Oh iya bu, aku coba” ucapki pada Ibu penjual toko. “Gimana pas?” tanya Ibuku. “Iya, pas” jawabku. “Yaudah bu, saya ambil yang dua ini aja, jadinya berapa?” tanya Ibuku. “Semuanya Rp.160.000 bu” jawab penjual toko. “Kurangilah sedikit bu, Rp.150.000 aja ya?” ucap Ibuku. “Yasudah, sini saya bungkus” ucap penjual toko. “Yah, ini uangnya terimakasih” ucap Ibuku. “Iya Bu, semoga awet ya” ucap penjual toko. Setelah itu, Ibu mengajakku untuk membeli jilbab yang tak jauh dari toko tadi. “Nis, sekalian aja beli jilbabnya ke toko sana yuk” ucap Ibu. “Boleh bu, ayo” ucapku. Akhirnya sampailah kami di salah satu toko jilbab yang lengkap dimulai jilbab anak-anak, remaja, sampai jilbab Ibu-ibu juga ada. “Permisi bu, ada jilbab segiempat yang panjang ga neng?” tanya Ibuku kepada penjual toko. “Oh, ada bu sebentar saya ambilkan” jawab penjual toko. “Nih Nis, kamu pilih mau yang mana?” tanya Ibu. “Yang ini aja bu” ucapku sambil memperlihatkannya pada Ibu. Kemudian Ibuku membayarnya.

Sesampainya dirumah, ternyata sahabat-sahabatku (Shafa dan Widya) sudah menungguku di ruang tamu. “Ehh ada kalian, dari tadi?” tanyaku. “Hai, baru saja” jawab Shafa. “Nis, ambilin minum buat mereka pasti mereka pada haus, bawain juga kue yang ada di kulkas” ucap Ibu. “Iya bu” ucapku. “Eh, gausah repot-repot bu sekalian makannya juga, hehe tapi bercanda” ucap Widya. “Ishh, kamu itu ya Wid jangan malu-maluin” ucap Shafa. “Eh gapapa, malah Ibu seneng Nissa jadi ada temen sharing, Ibu juga udah masak sebelum berangkat tadi, kalau kalian mau pada makan ambil sendiri-sendiri aja ya, anggap saja rumah sendiri” ucap Ibu. “Eh engga Ibu, gausah lagian kita udah makan ko tadi sebelum kesini” ucao Widya. “Nih, pada minum dulu” ucapku. “Makasih Nis, diminum ya” ucap Shafa. “Aku juga ya Nis” ucap Widya. “Iya sama-sama, boleh-boleh” ucapku. Setelah itu kami membahas tentang lomba yang akan ku ikuti besok, kemudian mempersiapkannya bersama-sama. Disela-sela pembicaraan kami, aku mengungkapkan keinginanku pada kedua sahabatku bahwa aku mantap untuk memakai menutup auratku dengan memakai jilbab “Shafa, Widya In Shaa Allah aku sudah memutuskan diri dan memantapkan hati untuk berjilbab, aku harap kalian selalu ada disaat apapun keadaanku dan aku harap kalian juga dapat mensupportku dalam berbagai hal, do’ain aku ya semoga tetap bisa istiqomah” ucapku haru. “Masya Allah Nis, beneran? aku dan Widya pasti bakalan mendukung penuh keputusan kamu yang baik ini, sempat terlintas juga aku untuk berjilbab juga tapi hatiku kayanya masih belum siap” ucap Shafa. “Iya Nis, bener kata Shafa. Semoga kamu selalu istiqomah dan semoga juga aku dan Shafa bisa mengikuti jejakmu dalam menutup aurat dengan sempurna” ucap Widya. “Aamiin Allohumma Aamiin, makasih yaa aku beruntung banget bisa mempunyai sahabat seperti kalian” ungkapku. “Sama-sama Nis, aku juga pokoknya kita ga boleh terpisahkan” ungkap Widya. “Iya, semoga ya” ucap Shafa. “Oh iya, gimana persiapan kamu buat lomba besok Nis?” tanya Shafa. “Aku sudah latihan beberapa kali, dibantu juga sama teman-teman grup Rohis sekolah kita mengenai lagu yang belum ku tahu, tinggal gladi aja biar ga gugup pas nanti di panggung” jawabku. “Sukses ya Nis, aku cuma bisa nyemangatin dan mendoakan kamu, tampilkan yang terbaik! menang atau kalah tak masalah yang penting kita sudah berusaha menampilkan yang terbaik. Bagus ga tuh kata-kataku, hihi” ucap Shafa. “Wahh, bagus tuh kalau dijadikan tulisan. Makasih Shafa, In Shaa Allah aku akan menampilkan yang terbaik karena semangat dari kalian, ini aku lakukan tidak lain tidak bukan untuk kalian dan untuk teman-teman sekelas kita” ucapku. “Semangat Nis, aku yakin kamu pasti bisa. Oh iya gimana kalau selesai komba kamu nanti kita sharing-sharing lagi tentang hobi kita dan juga sekalian aku mau curhat dan cerita banyak sama kalian, kan pasti kalau ada perlombaan pulangnya ga bakal sampai sore” ungkap Widya. “Wah ide bagus tuh, emangnya kamu mau curhat tentang apa sih Wid, aku jadi penasaran” ucapku. “Iya Wid, pasti tentang……” belum sempat Shafa melanjutkan pembicaraannya tiba-tiba Widya “Ehh suuuutttt, nanti kalian juga tau kok, hehe” ucal Widya sambil tertawa kecil. Setelah kita bercakap-cakap hampir 3 jam, kedua sahabatku memutuskan untuk pulang karena hari sudah petang, “Yasudah kita pulang dulu ya, sukses buat besok” ucap Widya. “Iyaa, kalian hati-hati dijalan ya” ucapku.

Selepas itu, belum sempat ku membereskan makanan yang ada di meja, tiba-tiba handphone ku bergetar karena ada watsapp yang masuk, kulihat tak ada nama yang tertera di pesan itu, 2 detik kemudian si pengirim menuliskan kata “Akbar” apa dia Akbar? (gumamku dalam hati), ku buka dan ku baca pesan itu yang didalamnya berisi “Assalamu’alaikum, maaf jika aku lancang mengirimkanmu pesan ini, dan maaf juga aku secara diam-diam meminta nomormu ke wali kelasmu. Aku hanya ingin memberimu semangat untuk esok hari, kuharap besok juga ada keputusan baik darimu perihal tawaranku untuk bergabung dengan grup Rohis. Lancar dan sukses terus ya Adriannissa. Wassalamu’alaikum.”  Degg.. perasaan apa ini? kenapa saat aku membaca tiap kata yang sudah ku tahu pesan itu dari Akbar perasaanku seolah bahagia dan hatiku tak menentu begini, padahal isinya cuma gitu doang tapi istimewa menurutku. Istimewa kenapa? karna aku tak pernah diberi semangat oleh lelaki selain ayah, adik dan saudara-saudaraku yang lain. “Sudahlah, jangan berlebih Nis! jangan baper ya hati” ucapku ke diri sendiri. Dan aku memutuskan untuk tidak membalas pesannya, cukup diam-diam saja aku merasakan ini.

Singkat cerita, keesokan harinya aku mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah dengan memakai seragam baru yang dibelikan Ibuku kemarin, mungkin karena belum terbiasa aku sedikit mengeluh karna membayangkan kalau siang hari nanti aku pasti kegerahan dengan bajuku ini ditambah lagi jilbab. Ehh Astagfirullah, semoga hatiku tidak memikirkan begitu lagi. Didepan cermin perlahan-lahan aku memakai jilbab yang juga dibelikan Ibu kemarin, awalnya memang agak kesulitan tapi untungnya Ibu membantuku untuk merapihkan jilbabku. Dicermin aku senyum-senyum sendiri sambil melihat diriku yang tertutupi jilbab panjang sambil berkata “Benar kata Ibu, aku jadi anggun kalau pake jilbab”. Kemudian aku menghampiri Ibu, Ayah, dan Adikku mereka terlihat senang melihatku dan menasehatiku kembali agar tidak asal pake lepas lagi.

Hari ini adalah hari pertamaku ke sekolah dengan menggunakan jilbab, aku ingin penasaran dengan respon teman-temanku di kelas. Benar saja, sesampainya di sekolah aku seolah menjadi pusat perhatian, sedikit malu karna banyak orang yang melihatku dengan tersenyum sebagian juga mengatakan aku terlihat pangling, ada juga yang bilang “Masya Allah Nis, kamu jadi terlihat cantik pake jilbab”, “Semoga seterusnya ya Nis” dan pujian-pujian lainnya. Tapi aku tidak tinggi hati, aku melakukan ini semata-mata hanya untuk menjalankan kewajibanku bukan untuk mendapatkan pujian dari orang lain, bukan juga untuk mengikuti style yang memang lagi naik daun tentang style OOTD hijab di sosmed. Selain pujian yang ku dapat, ada juga sebagian kecil yang melihatku dengan agak sinis, dia Siska dan gengnya mengatakan bahwa memakai jilbab itu norak, kaya emak-emak, disitu aku hanya bisa mengelus dada dan sabar mungkin ini ujian yang tak seberapa agar aku bisa kebal terhadap perkataan negatif dari orang, dan aku bisa memperbaiki lagi yang kurangku kedepannya. Ada juga kakak kelas yang bilang “Assalamu’alaikum, Bu Haji” disitu aku Aamiin kan, siapa tau diijaabah dan aku bisa jadi haji, aku mencoba positif tinking aja. Tapi Alhamdulillah nya banyak yang mendukung bahkan banyak yang terinspirasi dariku karna mengenakan jilbab.

Setelah itu aku menemui sahabat-sahabatku, mengobrol singkat karena upacara akan segera dimulai. Selesai upacara, aku melakukan gladi ditonton dan ditemani teman-temanku yang lain agar aku terbiasa tampil di depan banyak orang. Tak terasa acara akan segera dimulai, satu per satu peserta dipanggil untuk tampil. Deg..deg..deg.. jantungku makin lama makin kencang dan rasa gugup dan kurang percaya diri mulai tumbuh, disitu Shafa dan Widya mulai menenangkanku agar tak gugup, aku melirik ke arah kanan, kiri, depan, belakang mencari keberadaan Akbar. “Kamu nyari siapa Nis?” tanya Shafa. “Ehh, engga nyari siapa-siapa kok” jawabku. “Eh kalian tau ga, tadi aku lihat Akbar, dia ganteng banget pake busana muslim, kelihatan gagah. Ntar aku pingin foto ah sama dia biar followers ku banyak” ucap Widya. “Oh ya? dimana dia?” tanyaku penasaran. “Di aula, dia kan jadi panitia” jawab Widya. “Oh gitu, berarti dia ga bakalan lihat para peserta lomba dong” ucapku. “Kalo itu aku juga kurang tau” ucap Widya.

Tak terasa yang tampil setelah ini adalah aku, aku masih mencoba mencari diam-diam keberadaan Akbar tapi aku belum juga melihatnya semenjak upacara tadi. “Ya, kita panggilkan peserta selanjutnya Adriannissa Shalsa Zahra dari kelas 11 Ips 1 beri tepuk tangannya buat Nisa” ucap Pak Iwan pembawa acara. “Bismillahirrahmanirrahim” ucapku sambil menuju ke atas panggung. Setelah berada di atas panggung kulihat banyak sekali yang mendukungku yaitu teman-teman sekelasku, dan… Akbar? dia ternyata ada di sekumpulan teman-teman yang mendukungku, dengan senyumnya dia mengucapkan “Semangat Nissa”, betapa senangnya aku diberikan semangat olehnya yang terasa begitu spesial bagiku, sambil tersenyum aku mengatakan dengan pelan “Makasih”. Tapi di sisi lain, Widya terlihat diam saja setelah Akbar memberikan semangat kepadaku, aku tau dia juga sangat-sangat mengagumi Akbar mungkin dia terlihat tak begitu suka. Ahh sudahlah, aku harus mulai fokus. Suara musik instrumen mulai terdengar kulihat teman-temanku mengangkat tangannya ke atas sambil mengayun-ngayunkannya seraya memberikan semangat kepadaku, tapi tidak dengan Widya dia hanya tersenyum tipis kepadaku. Aku mulai bernyanyi melantunkan lagu yang sedah hits yaitu Deen Assalam, selesai lagu itu aku menyanyikan lagu berikutnya yang berjudul Menjadi Diriku, selain Deen Assalam yang menurutku lagu yang ngena banget apalagi kalau liat video klip nya rasanya pengen nangis, lagu Menjadi Diriku juga termasuk lagu favoritku, liriknya bisa menjadi pengingat bagiku agar tetap menjadi diri sendiri walupun banyak kekurangan. Lagu yang dipopulerkan oleh Edcoustik ini salah satu liriknya adalah (Menjadi diriku dengan segala kekurangan.. Menjadi diriku atas kelebihanku.. Tetap ku bangga atas apa yang kupunya.. Setiap waktu ku nikamati.. Anugerah hidup yang ku miliki) kata-kata dalam liriknya memberi hikmah tersendiri buatku yang harus tetap bangga dengan potensi yang ku punya yang belum tentu orang lain juga miliki. Selesai ku nyanyikan dua lagu tersebut, sorakan penuh semangat dan tepuk tangan penonton membuatku lega. Selesai menyanyi aku memberikan yel-yel yang berbunyi “Hijab.. Hijab.. Hijab.. Is my crown… . Hijab.. Hijab.. Hijab.. Mahkotaku.. . Ayo ayoo tunggu apa lagi, kawan ayo kita berhijab. Ayoo kawan kita sama-sama, menggapai ridhoNya Allah.. Sekian dan terimakasih” ucapku dengan penuh semangat.

Perasaan lega membuatku tenang, dan disitu aku langsung memeluk kedua sahabatku dengan haru. Shafa mencoba menghapus air mata haruku “Kamu udah nampilin yang terbaik Nis, penampilan kamu tadi bagus banget jadi gausah minder ya” ucap Shafa sambil menghapus air mataku. “Hai Nis, aku suka banget sama penampilan kamu tadi, aku sungguh terhibur dengan suaramu yang merdu dan bagus itu” ungkap Akbar. “Alhamdulillah, makasih ya Akbar. Biasa saja, jangan melebih-lebihkan” ucapku. “Sama-sama Nis, engga berlebihan kok, emang kenyataannya seperti itu” ucap Akbar. “Oh Nissa aja yang disapa nya? terus aku sama Shafa didiemin gitu?” ucap Widya. “Ehh maaf-maaf iya Hai Widya, Hai Shafa apa kabar dengan kalian semoga selalu baik” ucap Akbar. “Ahh percuma, telat Bar” ucap Widya agak yang terlihat tak suka. “Hai juga Akbar, Alhamdulillah kabarku baik, kabarmu gimana? Ehh Wid kamu jangan gitu dong, Akbar kan udah nyapa kamu juga, sapa balik napa jangan malah jadi jutek gitu” ucap Shafa. “Alhamdulillah aku juga baik, iya nih Wid kamu kenapa jutek banget, jangan jutek-jutek dong nanti cantiknya ilang loh” ucap Akbar. “Gapapa kok” ucap Widya singkat. “Oh iya Wid, sekarang jadi kan kita sharing bareng lagi kan? katanya kamu mau curhat juga” tanyaku. “Hmm.. tadi ibuku nelfon katanya selesai kegiatan di sekolah aku disuruh pulang, Ibuku minta anter ke supermarket” jawab Widya. “Oh gitu, yaudah lain kali kita agendakan lagi ya” ucapku. “Iya kalo ada waktu” ucap Widya. Setelah itu, Akbar mengajakku untuk berbicara di taman kemudian dia berkata “Aku sudah lama menunggu keputusan kamu, jadi bagaimana?” tanya Akbar. “Aku memutuskan untuk bergabung dengan grup Rohis sekolah kita, terimakasih atas saran-saran dari kamu untuk meyakinkanku” jawabku. “Alhamdulillah kalau begitu, jadwal kami bertatap muka hari kamis dan hari jum’at kalau di dalam sekolah, di luar sekolah hari sabtu pagi. Semoga kamu bisa cepat berbaur dan berinteraksi dengan yang lainnya ya, aku seneng denger keputusan baik kamu hari ini” ucap Akbar. “Iya, bantu juga aku untuk memperbaiki diri ya” ucapku. “In Shaa Allah bukan hanya aku aja yang bantu teman-teman Rohis yang lain juga akan membantu kamu secara pelan-pelan namun pasti. Ngomong-ngomong, kamu terlihat lebih manis kalau pake hijab, apakah akan seterusnya?” tanya Akbar. “Semoga senantiasa dimudahkan ya niat baik kalian membantuku, hmm memangnya aku gula dibilang manis. In Shaa Allah aku udah memantapkan hati untuk seterusnya memakai hijab ini, karena ‘Hijab Is My Crown’ kata orang inggrisnya mah, yang artinya ‘Hijab adalah mahkotaku’ berkat saran dari orang tuaku, sahabat-sahabatku dan salah satunya kamu, aku mencoba meyakinkan diri yaa meskipun tak semua orang terlihat senang, pasti ada lah yang ngomongin negatif tapi aku yang seperti itu aku ga menghiraukannya” ucapku. “Masya Allah, semoga selalu istiqomah ya Nis. Iya kamu manis kaya gula bahkan manisnya melebihi gula, kalau liat kamu lama-lama aku bisa diabetes, hehe” ucap Akbar bercanda. “Ihh, jangan gitu atuh aku jadi malu, jangan liat-liat ntar bisa timbul zinah mata loh” ucapku. “Oh iya maaf ya” ucap Akbar.

Setelah itu berbicara panjang lebar dengan Akbar, akupun pamit duluan untuk menemui lagi kedua sahabatku dan sama-sama melihat perlombaan fashion show busana muslim yang akan segera dimulai. Disela-sela menonton tiba-tiba Widya mengajakku berbicara empat mata. “Nis, kamu tau kan aku itu suka sama Akbar, tapi yang terlihat dekat deket sama Akbar itu kenapa kamu Nis sahabatku sendiri? Aku kadang suka iri sama kamu tiap Akbar ngajak bicara berdua sama kamu, sedangkan aku? dari dulu nunggu-nunggu itu, sekalinya datang ke kelasku ngajak bicaranya ke kamu. Jujur ya Nis ini curhatan aku sih, aku itu sebenarnya pengen Akbar tuh tahu tentang perasaan aku ke dia, aku juga pengen kalau dia itu meresponnya. Eh, tapi kamu ga suka kan sama Akbar? jangan bilang suka ya!” ungkap Widya panjang lebar. “Iya aku tahu Wid, aku sama Akbar itu bicarain tentang ajakan dia yang ingin aku gabung ke grup Rohis dan aku tadi menjawab ajakan itu dengan meng-iyakannya, gitu doang kok Wid ga ada pembicaraan lain lagi. Tentang masalah perasaan kamu, coba kamu pikirin ya kan Akbar itu soleh, pandai mengaji, rajin beribadah, pasti lah dia bakalan cuek kalau soal begituan, kalau kamu tanya dia tentang bagaimana cara mengaji yang enak didenger, cara dia menghafal Al-Qur’an atau tanya pelajaran sekolah pasti dia jawab dengan sedetail mungkin, menurutku sih begitu. Ya enggak lah Wid (padahal iya) aku ga suka sama Akbar (padahal suka, banget malah)” ucapku sambil berkata dalam hati ‘maaf ya Wid aku bohong, tapi kalau kamu tahu perasaanku yang sebenarnya, pasti kamu ga akan lagi mau ngobrol sama aku, aku mikirin kesitu, aku ga mau persahabatan kita (amit-amit) bubar karena itu’. “Iya juga sih, aku juga sempat berpikir seperti yang kamu katakan tadi, tapi apa salah kalau aku memperlihatkan rasa kekaguman itu padanya? setidaknya dia mengetahuinya” tanya Widya. “Ga salah kok, tapi aku takut nanti kalau-kalau akhirnya kamu malah sakit hati karena kenyataannya tidak seperti yang kamu harapkan” ucapku. “Yaudah, makasih ya Nis nasihatnya, aku harap kamu tidak memakan omongan kamu sendiri ya” ucap Widya. “In Shaa Allah engga” ucapku meyakinkan.

Selesai berbicara panjang lebar, kami pun menemui Shafa yang sudah menunggu dari tadi untuk menonton lomba fashion show busana muslim. Lirikku ke arah kanan ternyata Akbar mengikuti perlombaan itu ditemani dengan, Rinda? dia temen se geng nya Siska. Entah kenapa ada perasaan iri terhadap Rinda, yang berdekatan dengan Akbar. Perlombaan dimulai, peserta pertama kelas 11 Ips 5 “Akbar dan Rinda” ucap pembawa acara. Akbar berjalan menuju di dekatku dan dengan kegagahannya dia tersenyum pada seseorang, aku lihat dibelakangku tidak ada siapa-siapa, ‘apa mungkin dia tersenyum itu padaku?’ (ucapku dalam hati) ternyata benar dia tersenyum dengan melihat ke arahku, dan aku pun tersenyum balik kepadanya. Widya yang berada disampingku melihat dan dia langsung lari ke arah kelas, aku tak menyadarinya Shafa mencoba mengajakku untuk menemui Widya tapi karena suasana begitu berisik bahkan ucapan pun sampai tak terdengar karena suara musik yang keras ditambah banyak sekali yang teriak-teriak seraya menyemangati peserta lomba. Shafa langsung pergi sendiri menemui Widya, dan akupun baru menyadarinya setelah 5 menit mereka pergi, aku melihat disampingku tak ada mereka berdua, saat itu juga aku mencarinya dan salah satu temanku bertanya “Nyari siapa Nis?” tanya Syifa. “Kamu lihat Shafa sama Widya ga? mereka berdua kemana ya?” tanyaku. “Oh mereka, tadi Widya lari ke arah kelas mukanya kaya kesel gitu, terus Shafa menyusul kesana” jawab Syifa. “Oh gitu, makasih ya” ucapku. Tak banyak berbicara lagi, aku langsung menemui mereka di dalam kelas, aku mencari di setial ruangan kelas dan ternyata mereka ada di kelas ujung yang di bawah. Dengan sedikit nafas tersendat-sendat karena aku berlari menuju kelas satu ke kelas yang lain, aku pun menghampiri mereka. “Kalian kenapa sih ga bilang-bilang kalau mau ke kelas, aku nyariin kalian tahu” ucapku. “Ehh Nis, baru aja tadi kamu aku ingetin jangan terlalu deket sama Akbar, lah tadi di depan mata kepalaku sendiri Akbar senyum ke kamu dan kamu pun senyum balik ke Akbar, kamu tahu ga perasaan aku tadi? sakit Nis, sakit” ungkap Widya sambil menangis. Shafa mencoba menenangkan Widya. “Loh Wid, aku ga ngerti sama yang kamu omongin barusan aku biasa aja sama Akbar, toh dia senyum ke semua orang bukan ke aku aja Wid” ucapku. “Alahh, gausah sok pura-pura ga tahu lah, aku juga tahu kamu juga pasti suka kan sama Akbar, gausah bohong deh” ucap Widya sambil menghapus air matanya dengan tisu. “Astagfirullah Wid, istighfar kamu teh jangan mikir yang engga-engga. Kamu jangan kaya begini dong cuma gara-gara lelaki, Widya yang aku kenal itu kuat ga cengeng kaya gini, udah ah jangan gitu” ucap Shafa menengahi. “Tapi ini masalah perasaan Fa, kalau ini aku itu mudah baperan orangnya” ucap Widya sambil terisak-isak. “Wid, aku sama sekali ga bermaksud untuk buat kamu nangis kaya gini, apa kamu cemburu? udahlah Wid, aku sama Akbar itu sebenarnya ga ada apa-apa, kaya ke temen cowo di kelas kita juga aku anggap hanya sebatas teman Wid, percaya deh sama aku” ungkapku menjelaskan. “Aku gapapa kok. Udahlah Fa, Nis, kalian tinggalin aku sendiri, aku mau menenangkan pikiran sama hati dulu ya aku mohon kalian tinggalin aku disini” ucap Widya. “Loh kenapa Wid?, katanya kamu bilang tadi gapapa” tanyaku halus. “Kamu tolong ngertiin aku ya Nis, aku sekarang lagi butuh sendiri” jawab Widya. “Yasudah Nis, ikuti aja keinginan Widya” ucap Shafa. “Iya Fa, yaudah aku sama Shafa keluar ya Wid” ucapku. “Iya” ucap Widya singkat.

Setelah itu aku dan Shafa pergi meninggalkan Widya yang ingin menyediri, di tengah kami berjalan tiba-tiba Akbar menemuiku dan Shafa. “Nis, Fa, Widya mana? kok ga bareng sama kalian” tanya Akbar. “Widya lagi ingin menyendiri” jawab Shafa. “Oh gitu, dia kenapa emang?” tanya Akbar lagi. “Akbar, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu, boleh kita bicara berdua saja?. Fa, kamu duluan kesana ya aku mau ngobrol penting dulu sama Akbar” ucapku. “Tapi Nis..” ucap Shafa. Aku menarik tangan Shafa ke belakang Akbar sambil berkata pelan “Fa, aku mau ceritain tentang perasaan Widya ke Akbar, menurut kamu gimana? soalnya aku ga tega ngeliat Widya seperti itu, aku takut dia salah paham nantinya” ucapku. “Jangan Nis, kamu jangan ceritain ke Akbar. Aku takut kalau nanti Akbar makin cuek ke Widya. Mending kamu minta Akbar untuk ngejelasin ke Widya bahwa kamu sama Akbar itu ga ada apa-apa, jadi biar Widya ga salah paham terus sama kamu” ucap Shafa. “Gitu ya, ide bagus. Aku akan bicarakan ini sama Akbar” ucapku. “Tapi kamu jangan bilangin perasaan Widya ke Akbar ya” ucap Shafa. “Iya, aku ga akan ngomong tentang itu” ucapku. Setelah itu, aku menghampiri Akbar yang sudah menungguku, “Mau ngobrol apa Nis?” tanya Akbar. “Kita ngobrol disana aja” ucapku sambil menunjuk ke arah koridor. “Mau ngomong apa sih Nis? aku jadi penasaran” tanya Akbar. “Jadi gini Bar, Widya sikapnya jadi beda ke aku gara-gara dia kira aku lagi deket sama kamu. Kamu bilang ya sama Widya, bahwa kita ga ada hubungan apa-apa, karna dia sempat mengira bahwa aku sama kamu itu terlihat akrab banget menurutnya” ucapku. “Emang apa masalahnya sama Widya?, sampai-sampai harus ngejelasin” tanya Akbar. “Kamu ga usah tahu, yang terpenting aku mohon kamu jelasin itu semua ke Widya” jawabku. “Kalau aku ga mau gimana?” tanya Akbar. “Loh, kok kamu gitu sih, bantu aku dong biar Widya ga salah paham lagi” jawabku. “Oke, aki akan berusah bantu kamu” ucap Akbar. “Nah gitu dong, makasih ya sebelumnya. Yasudah aku mau nyusul teman-temanku lagi ya” ucapku. “Iya, hati-hati” ucap Akbar kembut. “Oke” ucapku sambil meninggalkan Akbar. Setelah itu, aku langsung menemui Shafa dan bertanya “Fa, gimana Widya? apa dia masih marah sama aku” tanyaku. “Mungkin Nis, karena keliatannya dia patah hati deh” jawab Shafa. “Gimana lagi aku harus ngejelasin sih Fa, kamu percaya kan bahwa aku sama Akbar itu ga ada apa-apa?” tanyaku. “Percaya sih, tapi dilihat dari tingkah laku Akbar ke kamu, keliatannya dia suka deh sama kamu Nis” jawab Shafa. “Hah.. masa sih Fa?, dia suka sama aku. Apa yang dia suka sih dari aku” tanyaku sambil sedikit gemetar. “Menurutku kemungkinan iya. Ya kamu tanya sendiri aja sama orangnya Nis, kalau ga malu itu juga. Tapi kamu harus inget Nis, Widya sahabat kita suka sama Akbar” jawab Shafa. “Yakali aku harus nanya, engga lah. Iya makannya tadi itu aku berusaha ngomong sama Akbar biar dia jelasin ke Widya yang sebenarnya itu kaya gimana” ucapku. “Tunggu aja Akbar jelasin yang entah kapan itu” ucap Shafa. “Dia udah iya in kok” ucapku. “Bagus deh kalau gitu” ucap Shafa.

Semua perlombaan pun telah selesai digelar, semua siswa diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya masing-masing, aku dan Shafa kemudian rencananya akan menemui Widya kembali untuk mengajak pulang bersama-sama. Tapi belum juga aku dan Shafa masuk ke ruangan kelas dimana Widya tadi menyendiri, tiba-tiba Widya keluar sambil menerima telpon dari seseorang dengan matanya yang terlihat memerah, dia berjalan tepat didepan aku dan Shafa seolah tidak melihat kehadiran kami disisinya. Pada saat itu pula aku mengajak Shafa untuk menyusul Widya karena aku penasaran dia mau kemana “Fa, kita ikutin Widya yuk. Aku takut terjadi apa-apa sama dia” ajakku. “Yuk” ucap Shafa. Setelah kami ikuti sampai ke tempat parkir, ternyata Widya dijemput oleh seorang lelaki yang mengenakan seragam dari sekolah lain. “Dia pulang sama siapa tuh Nis? kayanya bukan siswa dari sekolah kita” tanya Shafa. “Aku juga ga tau Fa, bener kata kamu dia memang bukan siswa disini. Mungkin dia itu temen lamanya Widya, husnudzon aja dulu Fa” ucapku. “Iya semoga begitu” ucap Shafa. Setelah itu aku dan Shafa pulang sama-sama, ditengah perjalanan Shafa mengutarakan keinginannya untuk berhijab “Nis, kamu pake jilbab itu ga gerah emang? apalagi kamu pake ciput dan panjang pula jilbabnya” tanya Shafa. “Awalnya sih iya sempat gerah gitu, mungkin belum terbiasa memakai pakaian serba panjang, tapi aku yakin Allah ga akan membebankan atau memberatkan hambanya jika mereka ingin berusaha taat. Malah aku bersyukur, kenapa? karena aku diberi hidayahnya saat ini, coba bayangkan kan umur kita lama-kelamaan akan berkurang, tapi belum juga untuk menutup aurat. Aku sih yakinnya karena itu, karena waktu juga terus berjalan masa mau gitu-gitu aja dan ga ada perubahan menjadi lebih baik, pasti akan rugi dan pastinya juga akan menyesal” ungkapku. “Makasih pencerahannya ya Nis aku jadi terinspirasi, sebenarnya aku juga pengen banget pake jilbab. Tapi kan Ibuku ga berjilbab, kakakku juga engga. Apa aku harus engga juga, tapi..” ucap Shafa. Belum juga Shafa melanjutkan pembicaraannya aku mencoba menasehatinya kembali walaupun diri ini juga masih banyak sekali kekurangan, setidaknya dengan menyampaikan apa yang kita ketahui, itu bisa menjadi ladang amal bagi kita, “Kamu ga usah ragu Fa, kalau kamu memang benar-benar serius untuk berjilbab, aku akan mendukung kamu 100℅ dan aku juga akan membantu kamu kita sama-sama mencari ilmu yang tidak kita ketahui. Masalah Ibu dan kakakmu yang kata kamu mereka ga berjilbab, kamu ga usah terpengaruh yang terpenting kamu ada niatan yang baik sampaikan ke mereka, siapa tahu setelah kamu sampaikan dan setelah kamu melakukannya dan mereka lihat Ibu dan kakakmu mengikuti langkahmu untuk berjilbab pula. Ya kan?” ucapku menjelaskan. “Bener kata kamu Nis, aku akan coba apa yang kamu katakan tadi untuk menceritakan keinginan aku berjilbab ke semua orang yang ada dirumah. Makasih banget masukannya, aku jadi ga ragu lagi dan aku jadi pengen cepet-cepet sampai rumah nih, hihi” ucap Shafa. “Sama-sama Fa, semoga keinginan kamu ini dipermudah ya, Aamiin” ucapku. “Iya Aamiin Nis” ucap Shafa. Aku pun sampai dirumah setelah diperjalanan menaiki angkot. “Kiri..kiri.. Fa aku duluan ya, mau mampir dulu ga nih?” tanyaku. “Iya, engga kayanya Nis hehe” jawab Shafa. “Yasudah kamu hati-hati ya” ucapku. “Iya Nis, kamu juga” ucap Shafa.

Sesampainya dirumah, aku melihat seseorang yang sedang duduk didepan balkon rumahku “Itu siapa ya?..” tanyaku penasaran. Aku pun menghampirinya “Akbar, tahu rumahku dari mana? ada apa datang kesini?” tanyaku. “Ehh Hai Nis, Waalaikumsalam. Tanya nya satu-satu dong, kan aku jadi bingung mau jawab dulu yang mana” ucap Akbar. “Eh maaf Assalamualaikum” ucapku. “Waalaikumsalam, kamu ga usah tahu aku tahu dari mana rumahmu, isi hatimu saja aku tahu wkwk” ucap Akbar sambil sedikit tertawa. “Hmmm, kamu tahu isi hatiku? emang apa coba?” tanyaku. “Isi hatimu itu tentangku..” jawab Akbar kemudian sedikit agak mengeraskan tawanya. “Mohon maaf anda salah, sudahlah jangan kebanyakan bercanda , ada apa kamu kesini?” tanyaku. “Yah, kirain bener, maaf kalau gitu karna aku bukan peramal. Aku kesini mau ngajak kamu pekan pergi ke kegiatan keagamaan di masjid Raya Bandung sama teman-teman Rohis juga” ajak Akbar. “Kenapa kamu yang ngajak? kenapa ga salah satu anggota yang perempuan? kan nantinya aku bisa barengan sama mereka” tanyaku. “Yang akhwatnya lagi sibuk latihan, jadi aku inisiatif sendiri untuk ajak kamu, tapi nanti berangkatnya barengan kok sama yang lainnya juga, tapi mungkin dipisah” ucap Akbar. “Iya aku mau ikut, jam berapa?” tanyaku. “Jadwalnya jam 9 pagi, bisa kan?” tanya Akbar. “In Shaa Allah bisa” jawabku. Kemudian Ibu menghampiri, “Nis, ada temen kok ga diajak masuk? sini masuk ngobrolnya didalam aja” ucap Ibu. “Ehh iya maaf sampe kelupaan ngajak masuk, ayo sini masuk” ucapku. “Ehh tanteu, gapapa aku juga udah mau pulang lagi kok” ucap Akbar sambil salam pada Ibu. “Loh kok sebentar? namamu siapa? Ibu baru lihat kamu” tanya Ibu. “Cuma sedikit bu yang diobrolinnya, namaku Akbar bu temennya Nissa tapi ga sekelas” jawab Akbar. “Ohh Akbar, minum dulu ya sebentar tanteu ambilin” ucap Ibu. “Gausah tan makasih, aku mau langsung pulang aja Assalamualaikum” ucap Akbar. “Oh yaudah Waalaikumsalam” ucap Ibu. “Waalaikumsalam, hati-hati” ucapku sambil sedikit tersenyum. “Iya Nis, pasti aku hati-hati kok” ucap Akbar sambil tersenyum juga. “Ciee senyum-senyum” ucap Ibu. “Ihh Ibuuuuu..” ucapku sedikit kesal. “Hehe, masuk yu kita makan Ibu udah masak” ucap Ibu. “Ayo, aku juga udah laper nih bu” ucapku. Kami pun masuk ke dalam rumah, tiba-tiba adikku bertanya “Siapa tuh kak?” tanya Ilham. “Itu temen kakak de” jawabku. “Masa, itu pacar kakak ya?” tanya Ilham sambil menunjuk-nunjuk. “Ishh, kamu itu kecil-kecil udah julid. Lagian kakak engga pacaran, dan ga akan” jawabku. “Oh haha, bercanda kak” jawab Ilham sambil tertawa. “Hmm, kamu itu ya” ucapku. “Hehe, maaf kak” ucap Ilham. “Iya lah gapapa” ucapku. “Sudah-sudah, mending kita makan sama-sama” ucap Ibu. “Oke bu” ucap aku dan Ilham.

Disela-sela kami makan, tiba-tiba ada telpon masuk. “Kringg…kring..kring..” telepon berbunyi. “Ibu angkat telpon dulu ya, kalian lanjutin makannya” ucap Ibu. “Iya bu” ucapku dan Ilham. “Assalamualaikum, ini dengan siapa? … / Oh ya? … / Sejak kapan Bu? … / Ya ampun … / iya bu, sama-sama … / Waalaikumsalam” ucap Ibu dalam telpon. “Siapa bu?” tanyaku. “Itu Ibunya temen kamu Widya nanya Widya ada disini ga, kata Ibu engga. Dia belum pulang juga sampai sekarang, kasihan Ibunya nyari-nyari. Kamu tahu ga Nis Widya kemana?” ucal Ibu. “Astagfirullah, Widya. Sebelum pulang tadi sebenarnya Widya marah sama aku gara-gara dikira dia aku deket sama Akbar, padahal aku sama Akbar deket juga sebagai teman ga lebih, tapi dia salah paham tentang itu. Aku udah coba ngejelasin tapi dia ga mau denger, aku juga udah minta bantuan Akbar untuk ngejelasin ke Widya yang sebenarnya gimana, tapi Akbar belum sempet ngejelasin ke Widya nya. Aku bingung cara ngejelasin ke Widya gimana lagi bu. Nah terus pas waktu mau pulang, aku sama Shafa mau ngajak barengan sama Widya, saat itu dia lagi menyendiri ga mau ditemenin sama siapa-siapa, terus aku sama Shafa samperin dia, tapi belum juga aku masuk ke ruangan kelas itu, Widya tiba-tiba keluar sambil menerima telpon dari seseorang yang aku juga ga tahu itu siapa, Widya keluar tapi ga melihat aku dan Shafa yang sebenarnya ada disisinya. Nah terus aku ngajak Shafa untuk ngikutin Widya sampai ke tempat parkir sekolah, terus aku lihat Widya dijemput sama seorang laki-laki yang ga tahu itu siapa. Aku lihat Widya cuma sampai situ Bu, aku ga nyangka kalau dia belum pulang juga sampai sekarang” ucapku panjang lebar. “Ya ampun Widya, apa dia ga ngabarin dulu ke orang tuanya. Orang tua mana yang ga khawatir kalau anak gadisnya belum juga pulang, semoga Widya cepet pulang me rumahnya” ucap Ibu. “Iya Bu, Aamiin” ucapku. Setelah selesai menceritakan semuanya pada Ibu, Ibu memberiku nasihat bahwa mungkin Widya salah paham dan karena emosinya yang belum reda, dia jadi kaya gitu, “Kamu bicara aja pelan-pelan sama Widya, jelasin semuanya. Lama-kelamaan Widya pasti akan paham” ucap Ibu. “Iya Bu, aku akan coba” ucapku. Setelah itu, aku pun melaksanakan sholat dengan Ibu dan adikku. Malam semakin larut, kami pun segera tidur.

Keesokan harinya, Ibuku mengabarkan bahwa Widya sudah pulang ke rumahnya, aku pun lega mendengarnya dan semoga Widya hari ini sekolah dan aku bisa menjelaskan yang sebenarnya ke Widya ditemani Akbar. Pagi hari seperti biasa, aku segera berangkat ke sekolah tapi tak diantar Ayahku karena dia sedang tidak enak badan. Aku pun berangkat dengan menaiki angkot, setibanya di sekolah aku bertemu dengan Shafa, tapi tidak dengan Widya. Aku pun menanyakan pada Shafa “Fa, Widya mana? dia sekolah kan?” tanyaku. “Aku belum liat dia, mungkin belum datang” jawab Shafa. “Oh gitu” ucapku. Sempat terfikir aku akan menceritakan pada Shafa bahwa kemarin Widya pulang telat ke rumahnya, tapi mending ga usah toh Widya juga udah pulang lagi. Bel berbunyi, tapi Widya belum juga datang. Kemudian guru pelajaran pertama masuk, tak lama dari itu Widya datang, dan Pak Rasyid sedikit menegurnya. Jam pelajaran selesai, aku pun mencoba menghampiri Widya “Hai Wid, udah dong jangan kaya gini, aku jadi canggung buat nyapa kamu” ucapku. Widya hanya menjawab dengan melirikku dan senyum singkat kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke layar handphone nya. “Wid, kenapa tadi kamu telat?” tanya Shafa. “Pagi tadi aku telat bangun” jawab Widya menatap Shafa sambil memambalikkan badannya padaku yang duduk disampingnya. “Huhh.. Sabar, sabar” ucapku dalam hati. Kemudian Akbar datang, dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Widya, dia pun menanggapi dengan jawaban singkat, tapi tak apa setidaknya Akbar sebagai seseorang yang Widya sukai sudah menjelaskannya, aku pun sedikit lega meskipun sikap Widya padaku tetap sama.

Kemudian salah satu guru mengabarkan berita duka bahwa Ayah Widya kecelakaan dan sekarang ada di ruang UGD, saat itu pula kami semua kaget tentang kabar itu, aku dan yang lainnya pun segera menghampiri Widya, kulihat dia sangat-sangat sedih dan kami pun menenagkannya. Aku pun memeluk Widya erat-erat, membiarkan ia menangis di pundakku. Kemudian Ibunya Widya menjemput Widya ke sekolah untuk pergi ke rumah sakit melihat kondisi ayahnya. Widya pun pergi dengan mengucap “Do’ain Ayah aku ya, semoga ga terjadi apa-apa sama dia” ucap Widya sambil bernilangan air mata.

Setelah semua pelajaran selesai, Aku, Shafa dan perwakilan kelas yang lain merencanakan untuk menjenguk Ayah Widya. Kami pun menggalang dana bantuan untuk keluarga Widya seikhlasnya, setelah terkumpul kami pun berangkat menuju lokasi. Sesampainya disana kulihat Widya masih saja menangis, dikelilingi oleh kerabatnya yang lain wajahnya terlihat panik. Aku paham apa yang dirasakannya saat ini pasti sangat terpukul, wajar kalau karena Widya sangat dekat sekali dengan ayahnya meskipun tak setiap hari dia bertemu karena kesibukan ayahnya yang bekerja di luar kota, tapi setiap bertemu Widya seolah menjadi anak kecil lagi yang ingin dimanja dan di peluk oleh ayahnya. Kami pun menghampiri keluarga Widya dan bermaksud untuk menjenguk dan memberi sedikit bantuan dan diserahkan pada Ibunya. Ibu Widya mengucapkan terimakasih banyak dan meminta do’anya pada kita semua, kemudian Akbar datang menyusul “Maaf aku telat, Wid yang sabar ya” ucap Akbar. “Iya gapapa” ucap Shafa. “Iya, makasih Bar” ucap Widya sambil terisak-isak. “Akbar, kamu pimpin do’a ya buat kesembuhan ayahnya Widya” ucapku. “Iya siap Nis, Bismillahirrahmanirrahim, mari kita berdo’a untuk kesembuhan ayahnya Widya, Al-Fatihah … / (membaca surah Al-Fatihah) … / berdo’a selesai” ucap Akbar. “Aamiin ya robbal alamin” ucap semua. Kemudian Widya menghampiriku dan berkata “Nis, maafin aku ya selama ini sikapku ke kamu terkesan menjauh, maafin aku juga udah salah paham sama kamu dan Akbar selama ini, sekarang aku udah ga mikirin tentang perasaan itu lagi, aku udah ngerasain gimana patah hati itu dan aku ga mau lagi gara-gara itu aku jauh dari kamu sama Shafa, aku jadi ngebantah sama orang tua. Aku nyesel banget selama ini aku kaya gitu, aku nyesel banget sekarang ayahku kecelakaan belum sempat minta maaf padanya. Bu, maafin aku ya kemarin-kemarin udah buat Ibu khawatir karena kelakuan aku yang mungkin kelewatan dengan tidak mengabari Ibu dulu dan aku pulang telat, sempat juga aku bikin Ibu nangis, maafin aku ya Bu” ungkap Widya sambil memeluk Ibunya, kemudian memeluk aku dan Shafa. “Iya nak, gapapa. Dengan kamu minta maaf ke Ibu, Ibu udah senang karena kamu mau mengakui kesalahanmu dan Ibu bangga padamu” ucap Ibu sambil mengecuk kening Widya. “Iya Wid, gapapa aku maafin kok. Aku seneng ngeliat kamu kaya dulu lagi, ga diem-dieman sama aku” ucapku. “Iya Wid, jangan sampai gara-gara masalah sepele persahabatan kita hampir retak, apalagi gara-gara masalah cowo. Persahabatan kita harus tetap terjalin selamanya” ucap Shafa. “Aku seneng liat kalian bareng-bareng lagi, tetap akur ya” ucap Akbar. “Iya Bar, iya” ucap Widya.

Singkat cerita, keesokan harinya ketika aku masuk kedalam kelas, dengan kagetnya aku melihat kedua sahabatku Shafa dan Widya mengenakan jilbab ke sekolah. “Assalamuala.. Masya Allah Shafa, Widya kalian cantik banget pake jilbab ini, kalian beneran berhijab?” ucapku sambil sedikit terheran-heran. “Ikum.. terusin dong ngucap salamnya, Waalaikumsalam Nissa Alhamdulillah iya aku sekarang berhijab, do’ain semoga istiqomah ya. Dan Alhamdulillah nya lagi tadi pagi ayahku udah dipindahkan ke ruang rawat, aku seneng banget, aku bersyukur Allah masih memberi kesempatan pada ayahku untuk kesembuhannya, dan aku juga bersyukur Allah telah memberiku pelajaran melalui kejadian demi kejadian yang aku alami. Dan dari kejadian itu, tak ada lagi alasan aku untuk tidak menyegerakan diri menjadi pribadi yang lebih baik, dengan menutup aurat dengan sempurna. Gimana penampilanku sekarang? hihi” ucap Widya. “Masya Allah kamu cantiiiiikk sekali Wid, makin anggun dengan mengenakan jilbab itu. Kamu juga Shafa Alhamdulillah kamu pun mendapatkan hidayah yang sama diwaktu yang sama pula, aaaahhhh aku belum pernah sesenang ini ngeliat kalian berdua” ungkapku. “Iya Nis, Alhamdulillah. Aku ga nyangka loh kalau Widya juga mulai hari ini berhijab, aku juga benad-benar kaget ngeliat Widya, dan Widya ngeliat aku yang sama-sama berhijab. Sumpah ini ga direncanain loh Nis, ya kan Wid?” ucap Shafa. “Oh ya? demi apa aku gembira dicampur haru, dan berbagai perasaan nempel dihati. Kalian mungkin ga ngerencanain tapi Allah lah yang merencanakan ini semua yang indah pada waktunya, dan kalian yang berhijab pada waktunya, sekarang dan In Shaa Allah seterusnya. Aamiin.” ucapku. “Aamiin” ucap Shafa dan Widya. Kami pun mengikuti pembelajaran sampai selesai. Saat istirahat, aku, Shafa dan Widya bertemu dengan Siska dan Rinda, mereka yang dulunya kerjaannya cuma ngeledekin orang, menghujat orang, dan sama sekali benci sama aku dan kedua sahabatku dan sempat juga waktu pertama kali aku berhijab, mereka mengatakan aku seperti emak-emak. Tapi, mau lihat sekarang mereka seperti apa? Dan….. jeng jeng jeng.. Mereka pun berhijab, “Masya Allah Siska, Rinda, kalian bener-bener berhijab? aku seneng ngeliat kalian berhijab” ucapku. “Ehh Nissa, iya Nis, Alhamdulillah aku memutuskan untuk berhijab. Maafin aku ya kalau dulu aku suka ngeledekin kamu sama temen-temen kamu, aku benar-benar malu dulu aku seperti itu” ucap Siska. “Iya Nis, aku juga sama Alhamdulillah udah terketuk pintu hatinya untuk berhijab, do’ain ya semoga tetap istiqomah dan kalian pun sama” ucap Rinda. “Iyaa, aku maafin kalian kok, semua orang pasti mempunyai masa lalu yang tidak baik dan sekarang kita harus memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, karena adanya kita hari ini tak terlepas dari masa lalu kita. Ambil saja hikmahnya, semoga bisa dijadika pelajaran oleh kita” ucapku. “Masya Allah kata-katamu Nis menyejukan sekali, apa boleh aku dan Rinda sahabatan sama kalian? rasanya pengen banget berjuang sama-sama dalam kebaikan” ucap Siska. “Boleh banget lah Sis, Rin, mulai kita sekarang kita adalah sahabat, setuju?” ucap Shafa. “Ehh, tunggu-tunggu aku ga setuju” ucap Widya. “Kenapa Wid?” tanya Rinda sambil mengerutkan dahinya. “Aku ga setuju kalau kita jadi sahabat aja, aku setujunya kalau kita jadi sahabat untuk selama-lamalamalamalamaaanyaaaaaaa, hehe” ucap Widya. “Lah, kirain aku apa” ucap Rinda. “Setujuuu banget, mulai sekarang hijab kita jadikan sebagai mahkota yang panjang yang selalu menutupi kepala kita kapanpun itu, dan mahkota kita sebagai perempuan muslimah adalah rasa malu, jadi jika kita keluar rumah tapi tidak mengenakan hijab (mahkota) kita, seharusnya malu karena kita memperlihatkan aurat kita yakni rambut kepada seseorang bahkan banyak yang bukan mahram kita. Harusnya jika seperti itu kita merasa malu, bayangkan juga apabila kita keluar dengan tidak menutup aurat dengan sempurna selangkah kaki saja, maka selangkah kaki pula ayah kita masuk ke dalam api neraka. Naudzubillahimindzalik. Semoga kita senantiasa Istiqomah ya dengan ” Hijab Is My Crown (Hijab adalah Mahkotaku)” ini. Jangan berjuang sendiri, karena kamu ga akan kuat, berjuanglah sama-sama untuk menggapai ridhoNya Allah SWT” ungkapku. “Aamiin ya robbal alamin” ucap Shafa, Widya, Siska dan Rinda.

Setelah itu kami mengobrol banyak tentang proses berhijab satu sama lain, berbagi cerita, menulis, dan aku pun mengajak Siska dan Rinda pula untuk ikutan kegiatan menulis yang selama ini Aku, Shafa dan Widya lakukan. Kemudian Akbar dan teman-teman Rohisnya datang. Dan sama hal nya aku, mereka pun kaget melihat perubahan teman-temanku yang berhijan. Salah satu temannya Akbar pun mengajak Shafa, Widya, Siska dan Rinda untuk bergabung di Rohis dan mereka pun menyetujuinya. Kami semua pun berkumpul dan membahas tentang ‘Hijab bagi wanita’ yang disampaikan oleh guru Agama kami Pak Azam. Tema nya selaras banget dengan keadaan sekarang, dimana teman-temanku semua Alhamdulillah berhijab. Setelah itu, kami lanjutkan kegiatan tadarus Al-Qur’an yang dipimpin oleh ketua Rohis Akbar. Senang sekali bisa berkumpul dengan orang-orang yang soleh/solehah dan sama-sama mencari ilmu dalam kebaikan.

Akhir pekan akhirnya tiba, aku juga mengajak sahabatku untuk ikut dalam kajian yang di Masjid Raya Bandung, sama-sama kita berangkat dengan kawan Rohis juga menaiki kereta api. Sesampainya di stasiun Bandung kita jalan kaki beramai-ramai dan seru sekali, kita jadi banyak teman. Dan setelah sampai di tujuan pun ternyata banyak sekali teman-teman yang hadir pada kegiatan ini, kami pun saling bertukar nomor WA dan membuat grup watsapp “Hijab Is My Crown”. Disana kami membahas segala sesuatu tentang Hijab, mulai dari hukumnya, cara mengenakan hijab sesuai syariat, dan banyak lagi yang lainnya yang dapat kami ambil ilmunya, karena memang anggota-anggotanya mencangkup seluruh Indonesia. Setelah kegiatan kajian selesai, kami pun mengambil foto bersama-sama untuk kenangan bahwasannya hari ini adalah hari yang sangat-sangat istimewa dan menyenangkan bagiku juga bagi semuanya. Setelah acara selesai, kami pun mengagendakan untuk makan bersama disalah satu rumah makan yang tak jauh dari lokasi saat ini. Setelah selesai makan kami pun pulang, disela-sela perjalanan menuju stasiun Akbar menghampiriku “Hai Nis, gimana acaranya seru kan? aku harap kamu mau membantuku dalam setiap kegiatan dan menjadi wakil ketua Rohis jika aku tak bisa hadir, karna aku yakin kamu bisa. Ya?” tanya Akbar. “Tapi..” ucapku. “Ga usah tapi-tapi, aku yakin sama kemampuan kamu, kamu harus optimis” ucap Akbar. “Iya In Shaa Allah aku yakin dan bisa” ucapku. “Makasih ya, nanti kita ubah semua struktur organisasi Rohis, biar semua mendapatkan tugasnya masing-masing” ucap Akbar sambil lagi-lagi tersenyum manis. “Oke” ucapku. “Ciee Akbar senyum-senyum sama Nissa, ciee” ucap Widya meledek. “Eh Wid, aku ga ada apa-apa sama Nissa, bener deh” ucap Akbar salah tingkah. “Yaelah Bar, gapapa kali ada apa-apa juga lagian aku udah biasa aja” ucap Widya sedikit tertawa. “Ihh Wid, apaan sih kamu” ucapku sambil sesekali melihat ke Akbar. “Udah..udah.. Ayo lanjutin perjalanan kita lagi, masih lumayan jauh nih jangan pada ngobrol mulu” ucap Siska. “Oke, lets go!” ucap semua bersemangat. Sesampainya ditujuan kami pulang ke rumah masing-masing. Dan keesokan harinya, sesuai yang sudah disepakati kami membentuk struktur organisasi yang baru tetapi dengan ketua yang sama yaitu Akbar, Widya dan Shafa jadi sekertaris, Siska dan Rinda jadi Bendahara, dan lain-lain. Dan aku jadi wakil ketua juga admin di grup watsapp yang membahas dan berbagi cerita tentang kisah-kisah perjalanan dalam menjemput hidayah para muslimah di “Hijab Is My Crown”.

-SELESAI-

 

Karya : Neng Wanda Salsa Dila

Kolom Komentar Facebook
To Top