Kahiji Story

Cinta Serumit Rumus Matematika

Dear Diary..

Pernahkah kamu berfikir. Ketika kamu bercerita mengenai perasaanmu pada orang yang kamu percaya. Bagaimana perasaan dia pada saat itu?

Terkadang kita sama sekali tidak terfikir sejauh itu. Kita hanya mementingkan perasaan kita ketimbang perasaan orang yang mendengarkan cerita kita. Bahkan kita tidak pernah sekali pun menanyakan tentang perasaannya.

Namun, bagaimana jika seandainya dia menyukai orang yang sama. Apakah kita akan tetap bercerita padanya atau justru malah membencinya?

Haruskah kita menyalahkannya karena menyukai pria yang sama? Akan tetapi, bukankah rasa suka itu tak bisa ditentukan harus dengan siapa dan seperti apa.

Karena pada awalnya, mungkin kamu hanya sebatas mengangumi. Kemudian rasa itu tumbuh seiring berjalannya waktu.

Dan pernahkah kamu merasakan bagaimana jika kamu yang berada diposisinya? Tersenyum mendengarkan ocehanmu mengenai orang yang kamu suka. Sedang dia pun menyukai pria yang kamu ceritakan, bahkan jauh sebelum kamu menyukainya.

Sedang pria yang dulu pernah kamu suka, kembali ke kehidupanmu dan memberikan cinta yang nyata. Sungguhlah rumit dan berbelit-belit, bagaikan rumus-rumus dalam matematika.

 

September 2017.

“Dorr…..”

“Serius banget. Lagi baca apaan sih? ”. Tanya seorang gadis yang mengagetkan Widia.

Di waktu senggang seperti ini sudah menjadi kebiasaannya menjelajahi setiap kata yang ada di dalam buku novel kesukaannya.

“Duh, Vina. Jangan ngagetin gitu dong. Kalau aku kena serangan jantung gimana? ”.

Gadis yang bernama Vina itu tertawa riang karena berhasil membuat temannya kesal. Suasana perpustakaan yang tadinya sepi kini berubah menjadi bising karena kedatangan Vina dan mulut cerewetnya.

“Ya ampun Widia. Kamu pasti gak akan percaya, siapa yang barusan aku lihat”. Antusiasnya.

“Siapa? Hamdan? “. Tanya Widia .

Hamdan adalah murid terkeren disekolahnya. Itulah yang pernah Vina katakan padanya.

“Bukan. Dia jauh lebih ganteng dan keren dari Hamdan. Yang katanya murid pindahan itu loh. Ternyata, hari ini masuk, ya? “.

Bukan Vina namanya jika tidak up date tentang cowok-cowok ganteng di sekolahnya.

Widia hanya bisa terkekeh pelan tanpa menggubris celotehan temannya itu.

Namun matanya masih terfokus pada untaian kata yang terdapat dalam buku novelnya yang sempat tertunda karena kedatangan Vina.

Vina yang melihat temannya sibuk bergelut dengan buku bacaannya itu merasa diabaikan.

“Wid, yang lagi ngomong itu disini. Kenapa kamu malah sibuk sama buku novel kamu sih? Kesel deh! “. Vina memajukan bibirnya dan pergi meninggalkan Widia sambil menghentak-hentakan kakinya.

Widia hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah konyol Vina ketika sedang marah. Yang pasti temannya itu tidak akan tahan berlama-lama mendiamkannya.

Tidak terasa sudah satu jam Widia berada diperpustakaan. Dia kemudian beranjak dari kursi yang di dudukinya dan berniat untuk menyusul Vina ke kelas.

Namun, tanpa disengaja seseorang menyenggol tubuhnya dan membuat buku-buku yang dibawanya pun terjatuh.

“Aduh…”. Dia mengaduh kesakitan.

Pria itu menyenggol dirinya cukup keras.

Sorry. Lo gak papa? “. Tanya pria tersebut.

“Iya, aku gak papa”. Jawab Widia seraya memunguti buku-bukunya yang berserakan.

Pria itu pun berniat membantunya namun sekali lagi dia justru membuat kesalahan sehinnga kepala mereka berbenturan.

Widia kembali mengaduh kesakitan. Dia merasa kemalangan sedang menimpa dirinya. Mengacuhkan Vina temannya dan sekarang insiden tabrakan konyol yang bahkan dengan orang yang tidak di kenalinya.

Namun, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Pria yang menabraknya itu hanya terdiam sambil terus menatap dirinya. Widia yang merasa tidak nyaman dengan tatapan mata pria itu segera menundukan wajah dan mengambil buku-buku miliknya yang berserakan. Walau dia akui pria itu memiliki lensa mata berwarna coklat yang indah.

“So-sorry. Lagi-lagi gue ceroboh”. Ujar pria itu dan tersadar dari lamunannya lalu membantu menunguti buku-buku yang berserakan di lantai.

“Tidak masalah”. Jawabnya. “ Maaf, sepertinya aku harus pergi”. Widia mulai melangkah keluar meninggalkan seorang pria yang memandangi kepergiannya dengan penuh tanda tanya.

“Isabel…?”. Ujar pria itu pelan

 

Di lain waktu, Vina yang saat itu sedang sibuk bergelut dengan ponselnya merasa ada seseorang yang mendekatinya.

“Vin, ke kantin yuk”. Ajak Widia.

“Gak mau. Aku masih kesel sama kamu! “. Ketusnya sembari memajukan bibir beberapa senti dan melipat kedua tangannya didepan dada.

“Iya udah, aku minta maaf karena udah nyuekin kamu”. Bujuk Widia.

“Oke, aku maafin. Tapi dengan satu syarat”. Sembari menyunggingkan senyum liciknya.

Widia tentunya sudah tahu syarat apa yang temannya maksud itu. “Iya tenang aja. Aku yang bayarin kok”.

Mendengar hal itu, Vina beranjak dari kursinya dan mengamit tangan Widia untuk segera pergi ke kantin. Kantin masih terlihat sepi ketika mereka sampai disana. Vina segera mendudukan pantatnya dikursi yang tidak jauh dari hadapannya.

“Mau aku pesenin apa? “. Tanya Widia.

“Bakso sama es jeruk peras aja deh”. Seringainya.

Widia pun segera beranjak untuk memesan pesanan temannya itu. Tak perlu menunggu waktu lama, Vina bisa melihat Widia yang membawa dua gelas es jeruk peras di ikuti ibu Tanti penjaga kantin yang membawa baki berisi dua mangkuk bakso menghampirinya.

Bu Tanti menyodorkan mangkuk bakso kapada Widia dan Vina tak lupa merekapun mengucapkan terimakasih kepada bu Tanti.

Ketika Widia sedang asyik mengunyah bakso. Tiba-tiba saja Vina berteriak dan mengagetkannya hingga membuatnya tersedak. Dia pun segera meraih gelas yang berisi es jeruk dan meneguknya hingga tandas.

“Ya ampun, Vin. Ngapain teriak-teriak gak jelas gitu sih? Bikin orang keselek aja”. Omelnya.

“OMG, coba kamu lihat disana. Bukankah dia cowok pindahan itu? “.dengan mata yang berbinar.

Widia pun mengikuti arah pandangan Vina dan mendapati seorang pria yang tengah memesan sesuatu di kantin itu.

“Jadi itu cowo yang kamu bilang ganteng waktu diperpustakaan? “. Tanyanya.

“Iyalah! Emang ada berapa orang murid pindahan disekolah ini? “. Ujar Vina sembari memutar bola matanya.

Vina sering kali dibuat kesal dengan sikap Widia yang pintar tetapi kudet itu. Dia terlalu sibuk berkutat dengan buku novel fantasi yang membuatnya berkhayal terlalu tinggi.

“Ye, aku kan gak se-up date kamu, Vin”. Sembari tertawa renyah.

Tiba-tiba pria itu menghampiri meja mereka sembari membawa satu mangkuk mie ayam dan es jeruk lemon peras. “ Boleh gue duduk disini? “. Tanya pria itu.

“Tentu saja”. Vina antusias masih dengan mata berbinar. Pria itupun kemudian duduk disebelah Vina. “Hai, akhirnya kita ketemu lagi”. Ujarnya kepada Widia.

“Hai, kamu lagi”. Widia sembari menyunggingkan senyum. Namun dikursi lain, seseorang sedang menatap mereka dengan tatapan tajam.

“Jadi, kalian udah saling kenal? Tapi kenapa kamu gak ngasih tahu aku, Wid”. Ketus Vina.

“Tadi gue gak sengaja nabrak dia waktu di perpustakaan. Dan oh iya, kita belum sempat kenalan. Gue Ricardo”. Ujar pria itu dan mengulurkan tangannya kepada Widia.

Namun, yang membalas jabatan tangannya justru Vina.

“Aku Vina. Ini Widia, dia emang gitu orangnya aneh”. Ujar Vina dengan gelak tawanya.

 

Di lain hari, Widia melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 14:30 WIB tidak lama kemudian bel pun berbunyi, menandakan kelas hari ini telah selesai. Dia beranjak dari kursinya dan bergegas untuk menusul Vina yang sudah terlebih dahulu keluar kelas. Namun, saat dia berjalan menuruni anak tangga seseorang memanggil namanya.

“Widia”. Seru Ricardo sembari berlari kecil menuruni anak tangga.

“Hai Ricardo. Ada apa? “. Tanyanya

“Hari ini lo sibuk gak? “. Tanya Ricardo sembari mengatur nafasnya.

“Kayaknya sih nggak ada”. Ujar Widia seadanya.

Mendengar hal itu, Ricardo mengajak Widia untuk membantunya mencari buku yang di tugaskan oleh gurunya. Karena Ricardo murid baru di sekolah dan mungkin saja dia kesulitan untuk mencari buku di perpustakaan Widia pun mengiyakannya. Ketika Widia hendak mengabari Vina perihal ada keperluan dengan Ricardon. Satu pesan muncul dari Vina.

“Wid, aku pulang duluan ya. Sopirku udah jemput nih”

Lalu Widia pun membalas pesan dari Vina itu. Dan merekapun melangkah menuju perpustakaan.

 

Beberapa minggu kemudian, satu pesan masuk dari telepon seluler Widia. Tertera nama Ricardo disana. Dua minggu terakhir setelah Widia membantu Ricardo mencarikan buku, pria itu jadi sering menghubunginya.

“Nice a dream, Widia J”

Widia tidak ingin salah menyimpulkan perhatian Ricardo kepadanya. Meski entah kenapa, hatinya justru merasa senang karena perlakuan pria itu padanya. Namun, ia mulai menepis semua perasaan itu. Baginya menjadi teman Ricardo sudah lebih dari cukup. Ia tidak ingin mengalami patah hati seperti yang pernah dia rasakan dulu ketika pria yang disukainya justru malah meninggalkannya.

Ketika Widia sedang mengarungi dunia khayalnya, rasa kantuk sudah mulai mendatangi dan membawanya terbang ke alam mimpi.

Di sisi lain, Ricardo tengah memandangi foto seseorang yang selalu mengisi kekosongan hatinya hingga maut memisahkan mereka. Dipeluknya foto itu dengan erat untuk meredam rasa rindu yang mendalam serta penyesalan yang selalu membuntutinya.

Seandainya ia bisa mengembalikan waktu, tentunya ia tidak akan mengulangi kecerobohannya. Namun, seperti kata pepatah bahwa penyesalan selalu datang diakhir. Hanya kata maaf yang selalu diucapkannya ketika bertemu dengan sang pujaan hati.

Mau tidak mau, Ricardo harus menerima kenyataan bahwa sang pujaan hati kini tak lagi bersama dirinya.

 

Suara bising jam alarm membangunkan Widia dari tidur nyenyaknya dan bergegas menuju kamar mandi walaupun terkantuk-kantuk. Ia harus berangkat sangat pagi jika tidak ingin kehabisan buku incaran yang di idam-idamkannya.

Widia pun melesat dengan mobil silver kesayangannya. Lalu lintas tidak terlalu ramai sehingga tidak menghabiskan waktu cukup lama dia kini telah sampai di tempat yang menjadi tujuan utamanya.

Kemudian ia pun masuk dan menyapa sang pemilik toko yang menjadi langganannya. “Selamat pagi, pak Johan”. Sapa gadis itu.

Pria yang Widia sapa itu pun tersenyum dan membalas sapaannya. Kemudian Widia berjalan menyusuri rak yang berisi berbagai buku. Matanya tidak terlepas dari buku yang berjejer di rak yang bertuliskan buku novel fantasi. Kemudian dia pun menemukan buku yang dicarinya.

Namun, buku itu ternyata berada di rak paling atas sehingga membuatnya kesulitan untuk meraihnya. Widia berjinjit dan berusaha melompat-lompat untuk bisa meraihnya. Tetapi nihil, buku itu tidak tersentuh sedikitpun. Namun, Widia tidak ingin menyerah. Ia melompat setinggi mungkin dan akhirmya “dapat” batinnya.

Akan tetapi, ketika ia hendak berpijak kakinya terkilir sehingga membuatnya limbung dan hampir terjatuh. Jika saja seseorang tidak segera menangkap tubuh mungilnya.

Mata itu, lensa mata berwarna coklat yang indah. Namun, entah kenapa Widia melihat rasa rindu serta penyesalan dari sorot matanya.

“Kamu gak papa, Widia? “. Tanya pria itu dengan wajah sedikit cemas.

“Hanya sedikit terkilir, Ric”. Sembari meringis menahan rasa sakit.

Ricardo mengajak Widia untuk pergi memeriksakan kakinya ke dokter. Namun, gadis itu menolaknya. Dia beranggapan bahwa kakinya hanya terkilir biasa dan tidak mengalami luka yang cukup serius sehingga tidak perlu sampai pergi ke dokter.

Karena sikap Widia yang keras kepala, akhirnya Ricardo pun mengalah dan tidak lagi berusaha membujuknya untuk pergi ke dokter. Sebagai ucapan terimakasih karena pria itu telah menolongnya. Widia mengajak Ricardo pergi makan siang bersamanya.

Merekapun pergi kesebuah tempat makan yang sering Widia kunjungi karena makanannya yang enak dan harganya yang cukup terjangkau. Dia mengajak Ricardo untuk makan ditempat pedagang kali lima langganannya. Meski awalnya ia sedikit tagu untuk mengajak pria itu makan di sana. Namun ternyata, Ricardo sudah terbiasa makan makanan di tempat pedagang kaki lima. Mendengar hal itu Widia merasa lega.

Tempatnya ternyata banyak dikunjungi pembeli. Sehingga mereka pun harus rela menantri demi semangkuk sop buntut dengan kuah yang paling nikmat. Setelah menunggu antrian yang memakan waktu cukup lama. Akhirnya, lidah mereka dimanjakan oleh gurihnya kuah kaldu dan dagingnya yang empuk.

Ketika Widia tengah menikmati sop buntutnya. Diam-diam Ricardo memandanginya dan menikmati lekuk wajah gadis itu yang begitu cantik. Mengingatkan pria itu pada seseorang. Dia jatuh cinta pada wajah itu. Wajah yang selalu ada dalam hati dan pikirannya.

 

Di malam yang dingin, semilir angin menerpa wajah Widia yang tengah memandangi langit malam bertabur bintang dari jendela kamarnya yang ia biarkan terbuka. Pikirannya melayang ke waktu diamana ia tengah bersama Ricardo. Akhir-akhir ini gadis itu merasakan ada hal yang aneh dalam dirinya. Suatu kenginan untuk memiliki lebih dari sekedar teman. Widia tidak tahu rasa itu muncul dari mana.

Namun, ia begitu nyaman berada didekat Ricardo. Widia merasa bahwa pria itu juga merasakan hal yang sama dengannya. Ia teringat kejadian tadi siang, ketika Ricardo yang tertangkap basah tengah memandangi dirinya. Pria itu lantas menggaruk tengguknya dan tersenyum kikuk. Namun, ketika Widia sedang lengah, Ricardo kembali memandangi dirinya. Membuat gadis itu tersipu malu dengan pipinya yang memerah.

Widia tersadar dari lamunannya dan melirik jam yang ada dilemari kecil. Malam semakin larut, dia pun menutup jendela lamarnya dan beranjak tidur.

 

Malam itu, Ricardo tengah membuka sebuah album foto kenangannya bersama orang yang terkasih. Ia masih ingat hal-hal konyol yang gadis itu pernah lakukan. Diapun tersenyum kecut melihat foto-foto yang ada dalam album tersebut.

Seorang gadis yang memakai kalung dengan inisial ‘I’ itu tengah tersenyum. Senyuman yang Ricardo rindukan serta kehangatan dan kelembutan bibirnya ketika bersentuhan. Kemudian dia teringat Widia. Gadis penggemar novel fantasi itu tidak sengaja datang dikehidupannya dan membuat pria itu kembali bersemangat menjalani hidupnya yang sempat terlena.

 

Widia terbangun ketika dia merasa telepon selulernya berdering. Hari masih sangat dini namun seseorang sudah menelponnya sepagi itu. Dia pun menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

Dalam keadaan masih mengantuk Widia mencoba mendengarkan suara orang yang tengah menelponnya itu.

“Halo, Wid. Apa kabar? Gue kangen banget sama lo juga Vina. Eh, sorry nih gue nelpon pagi-pagi. Gue Cuma mau ngabarin. Lusa nanti gue balik ke Bandung.” Ujar seorang gadis diseberang dengan panjang lebar.

“Maaf, ini dengan siapa ya? “ tanya Widia terkantuk-kantuk.

“OMG, Wid. Sama temen sendiri aja udah lupa. Ini gue Karin! ”.

 

Sekolah masih terlihat sepi ketika Widia turun dari mobilnya, hanya terlihat beberapa murid yang berlalu lalang. Gadis itu berjalan menuju perpustakaan dan sempat menyapa beberapa temannya yang tidak sengaja berpapasan.

Ia mendudukan pantatnya pada kursi yang berada di perpustakaan itu. Tempat favoritnya yang sering ia kunjungi ketika wakru senggang. Kemudian ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya.

Sebuah buku yang dibelinya dari toko buku langganannya dan demi mendapatkan buku tersebut dia harus merelakan kakinya terkilir. Namun, Widia amat senang ketika Ricardo mengkhawatirkan dirinya.

Dia pun mulai membaca kembaran kata dalam novelnya hingga seseorang memanggil namanya. “WIDIA… ”.

Widia mendongak dan mencari sumber suara. Dilihatnya seorang gadis tengah berjalan tergepoh-gepoh kearahnya. “Hai, Karin. Apa kabar? Bagaimana liburan kamu di Surabaya? “. Tanya Widia setelah menutup bukunya.

“Seru bangett. Di sana gue ketemu sama cowok-cowok ganteng.” Antusiasnya dengan mata yang berbinar. “ dan ternyata sekolah kita juga kedatangan murid cowo, ya? “. Sambungnya.

“Maksud kamu, Ricardo? “. Alih-alih menjawab pertanyaan Karin. Widia justru malah balik bertanya.

“Gue belum tahu sih nama cowok itu siapa. Yang pasti gue harus bisa jadiin dia pacar gue.” Tekadnya.

Entah kenapa Widia merasa suasana hatinya saat itu tiba-tiba saja memanas. Mungkinkah dia menyukai Ricardo juga, dan saat ini dia tengah cemburu karena Karin juga menginginkan pria itu untuk ia jadikan kekasihnya?

“Ya ampun, ternyata kalian disini. Aku cariin kemana-mana, tahunya kalian lagi di perpustakaan.” Ujar Vina yang berjalan menghampiri mereka. “Eh Karin, ternyata kamu udah balik dari liburannya? “.

“Yeh, elo kaya yang gak seneng liat gue udah balik. Emangnya lo gak kangen sama temen lo yang paling cantik ini ? ”. Goda Karin sembari mengedip-nedipkan matanya.

“Idih nggak tuh”. Ketus Vina. “Udah ah, aku laper. Ke kantin yuk? “. Ajaknya.

“Kalian aja yang ke kantin. Aku mau pergi ke kelas. Duluan ya”. Pamit Widia dengan malas dan beranjak pergi meninggalkan mereka yang menatapnya dengan bingung.

“Itu anak kenapa? “. Tanya Vina heran sembari menatap Karin sementara gadis yang di tatapnya itu hanya menggelengkan pelan.

 

Widia tengah mengetuk-ngetukan pulpennya diatas meja seraya memandang keluar jendela. Dia tidak pernah merasakan segelisah ini. Materi yang sedang diterangkan gurunya dia abaikan begitu saja. Dia kembali teringat pada perkataan Karin sebelumnya, temannya itu ternyata menyukai juga Ricardo.

Dua jam berlalu dengan begitu lambat. Namun, Widia senang karena jam pelajaran sudah selesai. Ketika ia hendak beranjak keluar kelas, tanpa sengaja mata Widia melihat Karin tengah berbincang dengan Ricardo. Terlihat sepertinya Karin tengah meminta nomor ponsel pria itu.

 

Karin sudah beberapa kali berusaha mendekati Ricardo, tetapi sepertinya pria itu tampak acuh dan tidak meresponnya. Karena merasa diabaikan Karin pun meminta bantuan Widia untuk membantunya mendekatkan Ricardo dengan dirinya.

“Please, Wid. Lo maukan bantuin gue”. Bujuk Karin.

“Kenapa harus aku? “. Tanya Widia, sungguh hatinya sangat dilema.

“Karena lo orang yang paling gue percaya, dan gak pernah ngecewain gue”. Ujarnya.

Mendengar ucapan Karin, Widia merasa tidak tega jika menolaknya. Gadis itu pun menyarankan Karin untuk mengajak Ricardo pergi kesebuah tempat.

 

Dua hari kemudian, Karin mengajak Ricardo kesebuah wisata air terjun dan tentu saja gadis itu juga mengajak Vina dan Widia karena pria itu mana mungkin ikut jika hanya berdua dengan dirinya saja.

Ketika Karin menuruni anak tangga yang terbuat dari batu, tidak sengaja kakinya menginjak bebatuan yang licin. Alhasil ia pun hampir tergelincir jika Ricardo tidak spontan menangkap tubuh rampingnya yang hendak terjatuh itu.

Widia yang berada dibelakang mereka hanya tersenyum kecut. Setidaknya dia tidak harus merepotkan diri dan berdebat dengan hatinya untuk mendekatkan Karin dengan Ricardo pikirnya.

“Thanks, Ric”. Ujar Karin yang tersipu dengan kedua pipinya yang memerah.

Ricardo mengangguk dan tersenyum kearahnya.

Lalu mereka pun melanjutkan kembali perjalanan menuju air terjun yang terlihat sudah ramai dengan pengunjung.

Tanpa basa-basi mereka pun segera menyimpan tas yang mereka bawa dan langsung melompat kedalam air yang dingin. Namun, Widia lebih memilih untuk menunggu mereka dan duduk disebuah batu besar sambil memandangi teman-temannya yang sedang asyik bermain air.

Ketika ia tengah memandangi keindahan air terjun, ia mendengar seseorang memanggilnya. “Widia? “.

Gadis itu pun berbalik dan mendapati seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya. “Rangga?“. Widia terkejut melihat pria itu.

“Kamu kesini bareng siapa? Mana yang lain? “. Tanya pria itu sembari celingukan.

“Bareng temen. Tuh, lagi pada main air”. Sembari menunjuk teman-temannya.

“Oh, terus kamu ngapain disini? Gak ikutan main air bareng mereka? “.

“Nggak ah, males”. Ujarnya.

“Kalau gitu ikut aku aja yuk”. Ajak pria yang bernama Rangga itu.

“Kemana? “. Tanya Widia dengan malas.

“Udah ikut aja, ayo”. Sambil menarik lengan gadis itu.

Rangga membawa Widia kesebuah kedai yang menyuguhkan berbagai minuman dari yang panas sampai yang dingin ada dikedai itu.

“Mau ngain sih, Ga? “. Gerutu gadis itu.

“Ngademnya disini aja. Sekalian kita ngombrol, udah lama kita gak ketemu dan ngobrol bareng. Kamu mau pesen apa? “. Tanya Rangga.

“terserah kamu aja”. Jawabnya singkat.

“Oke, tunggu sebentar”. Rangga beranjak dari kursinya dan memesan minuman untuknya juga Widia. Tidak lama kemudian pria itu kembali dengan dua cangkir coklat panas ditangannya. Lalu menyodorkan satu cangkir kepada Widia.

“thanks, kamu masih tau aja kalau aku paling suka coklat panas”. Ujar gadis itu seraya tersenyum simpul. Lalu mengecap sedikit coklat panas miliknya.

Satu jam berlalu, Widia yang terlalu asyik berbincang dengan pria yang ditemuinya itu melupakan teman-temannya yang mungkin saja tengah mencarinya karena sebelum dia pergi dengan Rangga gadis itu lupa untuk memberitahu mereka.

Benar saja ketika ia dan Rangga kembali ke tempat sebelumnya mereka sudah tidak ada di sana. Widia kemudian merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Namun sayang gadis itu gadis itu ternyata menitipkan ponselnya ke dalam tas milik Vina.

Di tempat lain. Karin, Vina dan Ricardo tengah mencari Widia dan menanyakan Kepada para pengunjung yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Namun, tidak satu pun pengunjung yang melihat keberadaannya.

“Duh, Widia. Kamu kemana sih? “. Ujar Vina lirih, mereka sudah mencari kasana kemari namun tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.

“Coba lo telpon, Vin”. Saran Ricardo cemas.

Vina pun mengikuti saran pria itu. Namun tidak lama kemudian terdengar suara dering telepon dari dalam tas miliknya. Ia pun membuka dan merogohnya.

“Ya ampun, ini anak kebiasaan kalau handphone suka ditinggal”. Gerutu Vina.

Melihat kecemasan Ricardo terhadap Widia membuat Karin merasa cemburu. Widia sangat beruntung karena Ricardo mencemaskannya. Namun seketika, matanya menangkap keberadaan Widia.

“Widia? Itu Widia kan? “. Tanya Karin memastikan.

“Mana? “. Antusias Ricardo.

“Itu… Tapi siapa pria yang ada disebelahnya? “. Sembari menunjuk seorang pria disebelah Widia dengan heran.

“Widia! “. Teriak Ricardo sambil berlari menghampirinya.

“Ricardo”. Dengan antusias. “Ya ampun, aku nyari kalian kemana-mana”. Sambungnya.

“Harusnya kita yang nanya, kamu abis dari mana. Tuh Ricardo khawatir banget sama kamu. Dan kok kamu bisa bareng Rangga? “. Segerombolan pertanyaan meluncur dari bibir Vina.

Sorry, . Aku tadi tidak sengaja ketemu sama dia. Terus dia malah ngajakin aku minum”. Seringai gadis itu.

“Lain kali kasih tau dulu kalau mau pergi. Gue khawatir lo kenapa-napa , Widia”. Lirih Ricardo.

“Iya aku minta maaf”. Ujar Widia tersenyum simpul, ia menyadari bahwa tidak sepantasnya Ricardo mengkhawatirkannya. Walau pun gadis itu menyukainya, tetapi dia juga harus menjaga perasaan Karin.

Kemudian mereka bergegas menuju mobil dan bersiap untuk pulang.

“Nanti kabarin kalau udah sampai, oke”. Ujar Rangga dari luar jendela.

“Iya”. Jawab Widia.

“Kapan-kapan kita main kesini lagi ya. Tapi kita berdua aja”. Goda Rangga.

“Ciee… Yang lagi bucin, sorry nih kita pengen cepet pulang. Pacarannya lanjut nanti aja, ya”. Ketus Vina.

“Ih apaan sih, Vin”. Gerutu Widia.

Namun, tanpa dia sadari. Dari kursi pengemudi seorang pria tengah memandanginya dengan tatapan tidak suka melalui kaca spion. Karin melihat tingkah Ricardo merasa bahwa pria itu sepertinya tidak menyukai kehadiran Rangga yang terlihat akrab dengan Widia.

“Sebenarnya Rangga itu siapanya Widia sih? “. Ujar Ricardo sangat pelan. Namun, Karin masih bisa menengarnya.

“Lo suka sama Widia, Ric? “. Tanya gadis itu.

Ricardo yang terkejut mendengar perkataan Karin barusan kemudian menatap kearahnya. Namun, bukan hanya pria itu yang terkejut semua orang yang berada disana pun sama halnya.

“Udah jam berapa sekarang? Sebaiknya kita harus segera pulang”. Ujar pria itu mengalihkan topik pembicaraan.

Widia sampai di rumah ketika hari mulai gelap. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera beristirahat. Perjalanan kewisata ai terjun cukup menguras tenaganya. Ia ingin segera tidur.

Namun, perkataan Karin masih terngiang ditelinganya. Widia bisa merasakan berapa sakitnya ketika ternyata seseorang yang menyukainya justru menyukai orang lain. Widia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha mendekatkan Karin dengan Ricardo. Tetapi ketika Ricardo justru menyukainya dia harus bagaimana.

Baru saja Widia memejamkan mata, ketika suara dering telepon mengagetkan dan membangunkannya.

“Halo”. Sahut suara diseberang.

“Ada apa, Ga”. Tanya Widia malas.

“Kamu kenapa, Wid? Kok kedengarannya lesu gitu? “

“gak papa. Ada apa nelpon? “.

“Kok kaya yang gak suka kalau aku yang nelpon. Udah sampe rumah? “. Tanya Rangga.

“Bukan gitu, aku lagi pengen istirahat. Udah”.

“Bukan karena perkatakan teman kamu tadi kan? “. Selidik Rangga

“Ya bukan lah”. Tukas Widia.

“Bagus deh kalau gitu”.

“Emang kenapa, Ga”. Tanya Widia dengan penuh penasaran.

“Sebenarnya aku pengen ngomong ini dari dulu. Tapi karena kita udah gak deket lagi kaya dulu dan aku harus pindah sekolah. Sebenarnya aku udah berusaha untuk menghilangkan perasaan ini. Tapi, saat kita ketemu lagi. Aku sadar bahwa bahwa masih mencintai kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?”. Lirihnya panjang lebar.

“Aku gak tau harus ngomong apa, Ga”. Ujar Widia terkejut.

“Kamu gak perlu jawab sekarang kok, Wid”.

“Tapi, kenapa kamu baru bilang sekarang, Ga? Disaat aku udah gak cinta lagi sama kamu. Dulu disaat aku menyukai kamu, kenapa kamu justru malah pergi dan menjauh? “. Jawabnya, tanpa ia sadari cairan bening keluar dari pelupuk matanya yang sudah tidak sanggup ia bendung.

Tidak ada jawaban dari seberang sana, hanya deruan nafas yang gadis itu dengar. Detik kemudian Rangga pun membuka suara.

“Aku minta maaf, Wid”. Lirihnya

“Kamu gak perlu minta maaf, Ga. Karena saat itu juga aku sudah tau jawabannya”. Balas gadis itu seraya menutup telponnya. Ia menangis sesegukan hingga kedua matanya membengkak.

Widia berusaha menghilangkan rasa sedihnya dengan berniat untuk pergi ke toko buku langganannya.

Ketika Widia hendak membayar buku yang dibelinya, ia tidak sengaja bertemu dengan Ricardo yang saat itu sedang berada dikasir dan akan membayar buku yang dibelinya.saat Ricardo hendak mengeluarkan uang dari dompetnya, Entah apa sebuah foto terjatuh dari dompetnya.

Dan secara tidak sengaja Widia melihatnya. Kemudian secara spontan dia mengambil foto tersebut.

“Siapa gadis yang berada di foto ini, Ric? “.tanya Widia dengan penuh penasaran.

“Lo menemukan foto ini dimana”. Tanya Ricardo terkejut.

“Jawab aku dulu, Ric. Dia siapa? “. Bentak Widia.

“Dia kekasih aku”. Jawab Ricardo.

“Jadi, yang dikatakan Karin bahwa kamu menyukaiku itu bohong? “. Tanya gadis itu tidak percaya.

“Gue gak pernah mengatakan bahwa gue suka sama elo, Wid. Gue hanya merasa ketika lihat wajah elo mengingatkan gue pada Isabel yang telah tiada.”

“Jadi selama ini perhatian kamu kepadaku itu hanya karena aku mirip dengan kekasihmu yang sudah tiada itu? “. Ujar Widia disela isakan tangisnya. “Hanya karena wajah kami mirip, bukan berarti sama, Ric. Aku kecewa sama kamu”. Gadis itu pun pergi dan lupakan buku yang akan dibelinya. Dia tak peduli dengan sang penjaga toko yang melihat dirinya dengan penuh heran. Saat ini yang Widia inginkan hanyalah menjauh dari orang-orang yang menyakitinya.

Widia sudah lelah dengan semua ini, Rangga yang tiba-tiba hadir kembali ke kehidupannya sempat membuatnya merasa bahagia karena teman dekat yang pernah menjauhi dirinya kini kembali kepadanya. Tapi untuk menjadi kekasih Rangga? Rasanya tidak mungkin, terlalu menyakitkan baginya. Mengingat pria itu pernah pengabaikan perasaannya dan pergi begitu saja saat mengetahui jika gadis itu menyukainya.

Kemudian Ricardo, pria yang membuat Widia merasakan kembali bagaimana rasanya cinta. Dan lagi-lagi tidak berpihak padanya. Berkali-kali Widia mengusap air mata yang membasahi pipi serta membuat penglihatnya terganggu.

Tiba-tiba bunyi klakson mengagetkannya.

Tiiiitt….

Brukk…

 

Widia berada di sebuah tempat yang begitu indah yang belum pernah dikunjunginya. Dia melihat kakek, nenek, dan kedua orang tuanya yang telah tiada tersenyum kearahnya.

Ketika Widia hendak menghampiri mereka, dia merasa seseorang tengah menggenggam erat tangannya. Widia berbalik dan mendapati wajah seorang pria yang terlihat berantakan dengan tatapannya begitu sayu.

“Widia, jangan pergi”. Lirihnya.

Tiba-tiba pandangan Widia menjadi gelap, dia mencoba membuka matanya dam melihat sekeliling.

Sebuah ruangan bercat putih dengan bau obat-obatan yang sangat menyengat. Dia paling tidak menyukai tempat ini sedari dulu, terlihat sebuah selang infusan menempel di lengannya. Widia baru menyadari bahwa seseorang sedang menggenggam tangannya ketika dia melihat kesamping tempat tidurnya.

Seorang pria yang tengah terlelap dengan penampilannya yang cukup berantakan. Pria itu terbangun ketika merasa tangan ysng dedang digenggamnya bergerak.

“Widia, akhirnya kamu bangun juga”. Lirihnya merasa lega. “Aku minta maaf telah menyakiti perasaan kamu, Wid. Aku mohon jangan tinggalin aku lagi”. Sambungnya.

“Rangga? Apa yang terjadi? “. Tanya Widia dengan suara serak.

“Maafin aku, Wid. Gara-gara aku, kamu jadi kecelakaan”. Jawabnya lirih

Kini Widia mengingat kejadian itu. Ketika ia tengah mengendarai mobilnya dengan pikiran yang kacau. Dia melanggar lampu merah dan suara klalson menyadarkannya. Ia melihat truk yang melaju dengan kencang kearahnya dan membuatnya banting setir.

“Dari mana kamu tau aku ada disini? “. Tanya Widia.

“Setelah kamu menutup telepon dariku. Aku berniat untuk pergi menemui kamu dan menjelaskan semuanya, namun saat aku hampir sampai di rumahmu. Aku melihat kamu pergi”. Rangga menghela nafas sejenak dan kembali berbicara. “Karena penasaranku ikuti hingga berhenti kesebuah toko buku dan sepertinya aku melihat kamu bertengkar dengan seorang pria. Lalu kamu berlari menuju mobil dan memacukan kendaraan dengan sangat cepat, maafkan Wid”. Ujar Rangga panjang lebar.

“Kamu minta maaf untuk apa, Ga? “. Lirih gadis itu.

“Maafin aku, Wid. Sungguh aku tak berniat untuk pergi dan menjauh dari kamu. Tapi, karena aku punya sebuah alasan”.

“Lantas, alasan kamu apa? “.

“Kamu ingat Yuda? pria yang pernah menyatakan perasaannya padamu? “. Tanya Rangga memastikan.

“Ya”. Jawab Widia singkat.

“Dia mengancamku akan melukai kamu. Jika aku masih saja dekat dengan kamu, Wid. Saat itu aku tidak tau harus berbuat apa dan aku terpaksa menuruti kemauannya”.

“Kenapa kamu gak bilang dari dulu, Ga? “.

“Aku takut dia ngapa-ngapain kamu, Wid. Aku gak mau kamu sampai terluka”.

Mendengar perhatian Rangga kepadanya membuat hatinya menghangat. Tanpa Widia sadari air mata kembali keluar dari pelupuk matanya.

“Makasih, Ga. Kamu udah mau perhatian padaku”. Ujar Widia sembari menyunggingkan senyum.

“Karena aku sayang kamu, Wid. Kamu mau kan, jadi pacar aku?”. Tanya Rangga dengan penuh harap.

Widia berfikir sejenak menimbang-nimbang perasaan hatinya. “Iya”. Kata itu tiba-tiba meluncur dari bibirnya. Walau dia menyukai pria selain Rangga. Namun seberkas cinta masih tertanam disana untuk pria yang pertama kali di cintainya.

I LOVE YOU, WIDIA”. Senyum merekah tersungging dari bibir Rangga. Lalu mengecup dahi gadis yang dicintainya.

I love you too, Rangga”. Balas gadis itu.

 

Karya : Wulansari

Kolom Komentar Facebook
To Top