kahijinews

Pemerintah Diminta Untuk Terapkan Program Baru Guna Tekan Angka Kecelakaan Tol Cipularang

Foto : kompas.com/Antara Foto/Raisan Al Farisi

Bandung, kahijinews.com – Deddy Herlambang selaku Pengamat Transportasi meminta kepada pemerintah agar segera menerapkan beberapa program baru untuk menekan angka kecelakaan yang trejadi di Tol Cipularang, Jawa Barat.

Menurut Deddy, Tol Cipularang merupakan salah satu ruas tol yang rawan terjadinya kecelakaan.

“Kalau di situ (ruas Tol Cipularang) memang konturnya menurun panjang, dari BPJT itu ada 46 kejadian (kecelakaan) jadi sangat rawan, jadi memang seharusnya pemerintah sudah turun Kemen PUPR, Bappenas, Kemenhub, Kementerian Kesehatan mereka harus mulai memikirkan. Masak harus menunggu benturan lagi. Sebaiknya, seyogjanya dalam waktu 3 bulan ke depan sudah menerbitkan program untuk masalah keselamatan Tol Cipularang ini,” kata Deddy saat dihubungi, Selasa (10/9/2019), seperti dikutip oleh kahijinews.com dari detikcom.

Beberapa program yang dapat dilakukan pemerintah diantaranya, melakukan pelarangan truk ODOL (overdimension and overload) untuk melintas di Tol Cipularang. Karena menurut Deddy, truk ODOL beresiko sangat tinggi mengalami kecelakaan. Karena truk ODOL beresiko rem blong sehingga mengurangi kecepatan flow jalan.

“Dengan tidak adanya truk-truk itu (ODOL) tadi selain resiko remnya blong dan mengurangi kecepatan flow jalan. Itukan truk kalau jalan di pinggir dan tengah lambat sekali sehingga melambat flow tol,” ungkapnya.

Deddy juga meminta agar pemerintah membuat jembatan timbang sebelum masuk tol yang bermanfaat untuk melakukan pengawasan rutin hingga ramp check terhadap truk-truk yang masuk ke dalam tol. Pengawasan ini juga harus diawasi untuk mengecek kelayakan truk.

Seharusnya truk pun harus dikenakan ramp check, kondisi remnya, muatannya berapa bearti jembatan timbang harus diadakan di setiap masuk tol,” jelasnya.

Menurut Deddy kedua program tersebut dapat dilakukan secepatnya. Deddy juga meminta agar pemerintah melakukan program jangka Panjang yaitu melakukan revisi UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum.

Ia berharap, UU yang baru nanti apabila  terjadi kecelakaan tidak hanya sopir, pengusaha dan penyewa juga dijerat hukuman, karena dinilai dapat memberi efek jera.

“Jangka panjang UU-nya tadi, jadi semua bisa tersangka bukan hanya sopir, bisa pengusaha dan penyewa itu bisa adil, bisa ada efek jera, truk jadi tidak asal-asalan,” ucap Deddy.

Kabar terbaru terjadi dua kecelakaan di Tol Cipularang yang bahkan hingga menelan korban jiwa.

(Adr)

Kolom Komentar Facebook
To Top